[Surat untuk Emir] Dari Bunda yang Selalu Ingin Belajar Menjadi Ibu yang Baik

Emir...
Ini adalah surat pertama yang Bunda tulis untuk Emir. Sejujurnya, ini karena terinspirasi dari teman-teman Bunda yang menuliskan surat untuk calon anak mereka. Sejak masih single sebenarnya Bunda juga ingin menulis. Tapi belum terpikir apa-apa. Jadilah sekarang saat Bunda sudah benar-benar memiliki Emir, Bunda bisa menulis sedikit perasaan Bunda dalam bentuk surat ini. Bunda latah ya? Hehe. Tapi latah dalam hal kebaikan, nggak apa-apa kan 😋

Emir...
Sejak Bunda hamil Emir, Emir udah hebat. Dulu Bunda nggak mau makan bahkan pernah seharian nggak makan dan cuma mau minum. Kata ayah, Bunda egois. Bunda hanya memikirkan diri sendiri dan nggak memikirkan bahwa ada Emir di dalam perut Bunda. Karena ayahlah, Bunda dipaksa untuk makan. Kata ayah, semua demi Emir. Supaya Emir tetap dapat asupan. Bunda dilarang makan mie instan, nanas, dan minum kopi. Padahal tiga itu favorit Bunda. Tapi lagi-lagi karena ada ayah, semua bisa Bunda tahan. Meski sekali-kali ayah masih berbaik hati juga untuk membolehkan Bunda makan mie instan, nanas, dan minum kopi hehe. Saat 5 bulan, Emir mulai gerak-gerak. Ya meskipun belum terlalu terasa. Barulah pas 7 bulan, Bunda kaget saat perut Bunda mendadak miring ke kiri. Bunda takut banget kenapa-napa. Makanya saat itu Bunda langsung tanya teman-teman Bunda yang berpengalaman. Katanya, itu artinya bayi lagi gerak-gerak. Masya Allah. Semakin ke sini, semakin sering geraknya. Meski kadang sakit, tapi Bunda bahagia banget lihat Emir aktif di perut Bunda. Apalagi ayah, ayah sumringah banget kalau lihat perut Bunda gerak. Ayah juga sering ajak ngobrol Emir. Kadang pas diajak ngobrol, Emir gerak-gerak lagi. Dan itu bikin Bunda dan Ayah ketawa-tawa. Ya, kami bahagia sekali.

Emir...
Pas tiba hamil Bunda sudah 9 bulan, bunda sama sekali nggak punya perasaan takut untuk melahirkan. Entah kenapa Bunda justru sangat enjoy. Tapi, ketakutan itu baru datang saat Bunda dinyatakan sudah pembukaan satu oleh bidan pas waktu Zuhur jam 11.30. Mendadak Bunda takut. Gimana rasanya melahirkan? Apa Bunda bisa melahirkan normal? Tapi Bunda selalu berdo'a dalam hati saat itu. Cuma sama Allah Bunda minta kekuatan untuk tetap tenang. Bunda ikutin saran Mimih (ibu mertua) dan bude untuk jalan kaki mondar-mandir. Kata mereka, supaya jalan lahirnya gampang. Sampai jam setengah 4 sore, kata bidan belum nambah bukaannya. Padahal, Bunda udah mulai ngerasain mules-mules. Kata bidan lagi, masih 1 atau 2 hari lagi. Bunda shock dong. Nggak mau rasanya kalo sakit sampai berhari-hari begitu. Iya, 2 hari itu menurut Bunda lama. Karena Bunda udah ngerasa sakit meskipun jaraknya belum lima menit sekali. Akhirnya sama bidan, Bunda disuruh pulang dulu. Bunda agak kesel. Tapi untung ada ayah dan keluarga yang menenangkan Bunda. Setelah maghrib, Bunda mulai merasakan mules lagi. Tapi mulesnya masih dateng pergi, dateng pergi. Mules enggak, mules enggak. Bunda pun disuruh minum air sama Abah (bapak mertua). Katanya itu air doa. Sebagian harus diminum, sebagiannya lagi diusap dari kepala sampai kaki. Lalu Bunda jalan-jalan lagi mondar-mandir di rumah. Entah efek air, atau memang sudah Allah kasih jalan, mules Bunda semakin terasa. Akhirnya Bunda nggak kuat. Bunda dibawa ke bidan. Tapi ternyata bidan nggak mau ambil resiko karena riwayat HB (hemoglobin) Bunda rendah. Katanya, bidan takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Dirujuklah Bunda ke rumah sakit. Rumah sakit pertama juga nggak terima. Katanya nggak ada dokter dan lagi-lagi karena riwayat HB Bunda rendah, mereka juga nggak mau ambil resiko. Lalu Bunda dirujuk lagi ke rumah sakit lain. Bunda semakin meronta-ronta kesakitan, nyaris nggak kuat. Akhirnya sampailah di ruang persalinan. Kirain Bunda, sudah mau keluar, eh katanya masih pembukaan 4 hufth. Tapi Alhamdulillah pas Bunda diambil darahnya, katanya HB Bunda naik dari 10 ke 14 😍 Mungkin karena efek jus buah bit yang dibikinin ayah kali ya 😇 Dari sini Bunda dan ayah optimis, Bunda bisa melahirkan Emir dengan normal. Bunda pun tidur. Tapi nggak nyenyak. Karena bangun-tidur, bangun-tidur terus karena mulesnya semakin kesini, semakin terasa. Sampai finalnya tanggal 17 April 2016, jam 00.33 WIB Emir lahir. Masya Allah tidak tergambarkan rasanya saat itu. Bunda nggak percaya, bahwa Bunda sudah bertaruh antara hidup dan mati. Karena sekali lagi, Emir hebat. Nggak butuh waktu lama, Emir langsung keluar meskipun harus ada drama sedikit dengan dokter dan bidannya hehe.


Emir...
Sekarang Emir sudah mau 8 bulan. Bunda akui, bahwa dengan hadirnya Emir, Bunda tidak hanya belajar bersyukur, tapi juga bersabar. Entah sudah berapa kata sabar juga Bunda tulis di blog ini. Karena itulah yang memang benar-benar Bunda harapkan. Bunda takut, saat Bunda nggak sabar, Emir akan terluka dan merekam lukanya hingga dewasa. Terlebih kelak Emir bisa membenci Bunda karena Bunda tidak bisa sabar 😖 (Baca: Inner Child dan Pola Asuh Orang Tua) Dan Bunda nggak mau itu terjadi 😓 Di depan layar, Bunda dan Emir tersenyum. Tapi mereka nggak tahu kalau di belakang, saat kita di rumah cuma berdua, Emir juga suka rewel dan bikin Bunda nyaris hilang kesabaran. Sekuat tenaga Bunda tahan, kalau nggak tahan lebih baik Bunda ke kamar mandi. Bunda nggak mau Emir kena sasaran ketidaksabaran Bunda. Maafkan Bunda ya, Nak 😓 Tapi ketahuilah Nak, Bunda suka sekali memperhatikan Emir saat Emir tidur. Disitu Bunda merasakan sayang yang luar biasa dan menyesalkan ketidaksabaran-ketidaksabaran Bunda. Bunda juga selalu membisikkan kalimat, "Bunda sayang Emir" setiap kali Emir tidur. Ya, percayalah, karena pada dasarnya cinta Bunda untuk Emir besar 😇

Emir...
Sekarang, Emir sudah mau 8 bulan. Bunda suka sedih ketika Bunda melihat anak-anak yang seumuran Emir lebih maju perkembangannya dibanding Emir. Bunda iri. Kadang Bunda merutuk pada diri sendiri, apa Bunda ada kesalahan selama merawat Emir? Apa cara Bunda gendong Emir ada yang salah? Tapi Bunda selalu melatih Emir duduk sejak 4 bulan. Bunda selalu mencontohkan caranya merangkak. Bunda juga berusaha membuat makanan yang tidak terlalu halus supaya Emir bisa belajar mengunyah. Katanya sih, itu bisa memancing tumbuh gigi. Tapi ayah selalu bilang, "nggak apa-apa, yang penting Emir sehat." Dan kata-kata Nenek juga selalu terngiang kalau "pertumbuhan setiap anak itu berbeda." Ya, dua kalimat itulah yang akhirnya menguatkan Bunda. Bunda nggak iri lagi lihat anak-anak lain. Bunda justru bahagia, karena sampai sekarang Emir masih sehat dan jarang sakit.

Emir...
Sebentar lagi Emir akan jadi kakak. Bunda juga tidak sangka kalau Allah memberi adik untuk Emir secepat ini. Walaupun awalnya Bunda shock, karena memikirkan Emir yang masih bayi dan butuh perhatian besar Bunda. Apalagi dengan pertumbuhan Emir, yang harus selalu Bunda pantau. Tapi kata ayah dan orang-orang baik di sekitar Bunda, kehamilan ini harus disyukuri. Karena ini anugerah Allah yang sudah dipercayakan pada Bunda. Baiklah. Bunda berusaha kuat. Meski kadang Bunda juga mual dan setiap kali mual berat, ayahlah yang harus turun tangan merawat semuanya 😓 Tapi Bunda nggak mau berlama-lama istirahat seperti saat hamil Emir dulu yang bisa tidur seharian. Bunda tetap harus makan, karena niat Bunda untuk tetap menyusui Emir sudah kuat sekali. Sekarang asupannya bukan lagi hanya untuk Bunda dan Emir, tapi juga untuk adiknya Emir yang ada di dalam perut Bunda. Bunda juga harus tetap gerak mengurus Emir dan rumah. Karena nggak mungkin terus-terusan mengandalkan ayah. Ayah kan juga harus kerja. Itu sebabnya Bunda selalu minta sama Allah supaya Bunda diberi keikhlasan, kesabaran, dan kekuatan untuk menghadapi ini semua.

Emir...
Nanti kalau adik sudah lahir, Emir jadi kakak yang baik ya. Yang sayang sama adik dan menjaga adik. Emir juga nggak perlu cemburu. Bunda dan ayah, tidak akan membedakan Emir dan adik. Emir akan tetap dapat kasih sayang kami seperti sekarang. Ya, Emir dan adik akan dapat kasih sayang Bunda dan ayah yang sama besarnya. (Baca: Sounding Adik ke Emir)

Emir...
Kadang terbesit di pikiran, Bunda pengen Emir jadi bayi aja. Selain lucu dan menggemaskan, Bunda juga ngeri lihat zaman sekarang yang semakin memprihatinkan. Bunda takut nggak bisa mendidik Emir dengan baik. Bunda takut, Bunda nggak bisa sabar kalau Emir nanti semakin banyak tingkah. Tapi itu nggak mungkin. Karena biar bagaimanapun, Emir harus tetap tumbuh besar. Tumbuh dewasa. Dan di lubuk hati, Bunda juga berharap seperti itu. Bunda juga ingin Emir tumbuh seperti anak-anak lainnya. Bahkan hingga Emir menikah dan punya anak. Semoga kita diberi umur panjang ya, Nak. Aamiin. (Baca: Anak Bukan Beban!)

Emir...
Maafkan Bunda ya, Nak. Maafkan Bunda yang masih banyak lubang di sana-sini. Bunda adalah ibu baru yang sesungguhnya ingin belajar menjadi ibu yang baik. Bunda sering baca-baca ilmu parenting bahkan dari zaman Bunda belum menikah. Bunda selalu mencari tahu perkembangan anak di setiap usianya hingga sekarang. Dan Bunda juga suka baca pengalaman ibu-ibu hebat yang bisa mendidik anaknya hingga anaknya bisa berprestasi. Kemudian Bunda jadi bergidik sendiri, apakah Bunda bisa seperti ibu-ibu lainnya? Bunda harap, semoga ya, Nak.

Emir...
Maafkan Bunda ya, Nak. Mungkin cukup sampai di sini dulu surat Bunda. Meskipun sejujurnya masih banyak sekali hal yang ingin Bunda tulis untuk Emir. Ketahuilah Nak, salah satu alasan Bunda membuat blog ini adalah untuk Emir juga. Bunda berharap, kelak Emir membaca tulisan-tulisan Bunda, termasuk surat ini. Dan ada sesuatu yang bisa Emir rasakan ketika membacanya. Ketika Emir merasa, maka disitulah Bunda hadir di hati Emir 😇

Emir...
Bunda suka melihat Emir senyum, Bunda suka melihat tertawa, dan Bunda juga suka kalau Emir sedang manja 😊

Salam sayang Bunda untuk Emir. 
Bunda yang selalu ingin belajar menjadi ibu yang baik untuk Emir dan adik-adik Emir kelak :')

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

2 komentar:

  1. Kok saya jadi menitikkan air maya ya membaca ini, jadi ingat sama anak saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe saya yang nulisnya pun menitikkan air mata :D

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.