Sahabat Terbaik adalah Pasangan Sendiri

Saya percaya, sebaik-baik sahabat adalah keluarga. Mungkin kita bisa saja punya teman yang menjadi sahabat, tapi bisa jadi teman kita tidak benar-benar mengetahui karakter asli kita. Hidup juga terus berjalan, pastilah teman kita akan punya hidupnya sendiri. Entah untuk sekolah, atau pun menikah dan punya anak. Sudah tentu tidak bisa terus hadir untuk kita. Suatu saat kita pasti akan berpisah dengannya. Maka itu, satu-satunya yang masih bersama kita ialah keluarga sendiri. Sekali pun mungkin kakak-kakak dan adik-adik kita sudah menikah, tidak ada yang bisa memisahkan hubungan keluarga.

Berbeda lagi ketika kita sudah menikah. Maka sahabat terbaik adalah pasangan sendiri. Kita hidup bersamanya. Menghabiskan sisa waktu hidup bersamanya. Satu rumah dengannya. Menghadapi suka duka bersamanya. Pokoknya apapun bersamanya. Termasuk saat ada masalah pun diselesaikan bersama pasangan. Maka tidak elok rasanya jika mengumbar masalah pada sahabat kita yang lain walaupun itu keluarga sendiri.  Terlebih bagi seorang perempuan seperti saya, yang tanggungan hidupnya sudah berpindah ke suami.

Baca: Jangan Umbar Masalah dan Keburukan Pasangan

Pasangan adalah sahabat terbaik

Saat kita memutuskan menikah, maka saat itu juga artinya kita siap untuk hidup bersama pasangan dan siap menanggung semuanya berdua. Kita siap untuk terbuka segala-galanya. Maka menjadi penting untuk sama-sama mau belajar menjadi sahabat yang baik. Menjadi pendengar yang baik, dan belajar untuk saling memahami.
https://pixabay.com/id/pantai-daun-air-gelombang-laut-631925/
Mungkin ini sebabnya, mengapa Allah menjadikan laki-laki dan perempuan berpasangan. Karena dua karakter manusia ini memang beda. Perempuan yang cenderung mengutamakan perasaan, akan dibantu oleh seorang laki-laki yang mengutamakan logika. Seorang laki-laki yang memakai logika, akan diajak untuk lebih peka oleh seorang perempuan yang punya perasaan lebih sensitif. Akhirnya dari kedua perbedaan inilah masing-masing menjadi belajar. Perempuan belajar kapan saatnya tidak melupakan logika, dan laki-laki akan belajar kapan saatnya harus lebih peka.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” [QS. Ar-Rum 21].

Jangan sampai salah menempatkan curahan hati

Menjadikan pasangan sahabat pun tidak semata saat senang saja. Melainkan saat ada masalah pun pasanganlah yang berhak pertama tahu. Sekali pun itu masalah dengan pasangan sendiri. Jangan sampai orang lain yang justru pertama tahu keganjalan-keganjalan dalam hati kita. Sekali pun kita curhat dengan sesama perempuan. Sebab itu sudah menjadi aib rumah tangga yang tidak pantas diceritakan.

Saya punya cerita tentang seorang istri yang sedang tidak nyaman dengan suaminya. Tapi justru sang istri mencurahkan perasaannya pada teman-temannya. Saat teman-temannya bertanya apakah suaminya sudah mengetahui perasaannya, sang istri ini menjawab, "belum!" Di sini yang akhirnya menjadi masalah. Bagaimana mungkin suaminya akan tahu perasaannya, jika dia sendiri tidak pernah mengungkapkannya. Mungkin dia berkilah karena takut dan tidak ingin membuat suaminya marah, tapi justru bukankah dengan cara ini justru dia akan menyakiti dirinya sendiri?

Masalah seperti ini mungkin terlihat sepele. Tapi mencurahkan perasaan pada teman pun, saya pikir sama sekali tidak akan membantu. Jika si istri bersikeras untuk bertahan menyembunyikan perasaannya, maka sampai kapan pun suami tidak akan pernah tahu. Kecuali jika suami bertanya, itu pun suaminya harus peka dulu. Akhirnya, masalah tidak terselesaikan, aib keluarga pun terlanjur menyebar pada teman-temannya. Naudzubillah.

Memang, kadang kita marah pada pasangan. Ingin rasanya dia tahu sendiri kesalahannya. Tapi jika seperti ini terus, tidak akan ada rumah tangga yang bertahan. Jika keduanya selalu mementingkan diri sendiri dan tidak pernah berterus terang pada pasangan.

Lain hal ketika masalah dan situasinya memang sudah terlalu rumit. Ini pun masih perlu kebijaksanaan menghadapinya. Jangan sampai kita meminta bantuan pada orang yang tidak berpengaruh apa-apa. Sebaiknya minta bantuan pada keluarga atau orang yang memang dihormati atau kompeten dalam masalah pernikahan dan rumah tangga.

Ya, ini hanya sebagai pengingat saya juga. Semoga kita tidak pernah salah menempatkan perasaan. Semoga kita bisa menjadikan pasangan adalah sahabat terbaik kita. Yang tidak hanya ada di saat suka, melainkan terus bersama dalam keadaan duka. Sampai kita dan pasangan bertemu lagi di jannah-Nya. Aamiin :)

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

10 komentar:

  1. Betul...bos....saya jg gitu , biar banyak berantem tapi dialah sosok wanita yang peduli...

    BalasHapus
  2. Setujuuu mbak :). Tapi memang dr dulu aku jrg sih curhat ke sahabat, lbh srg k buku diary pas jaman2 sekolah :D. Trs pas udh kuliah mulai simpen di blog yg disetting private. Skr udh nikah, sesekali sih ngadu ama suami, tp kebanyakan ttp aja tulis di blog yg khusus private. Yg pasti sih, ngomong je sahabat/temen deket yg udh jaraaaaaang bgt aku lakuin. Soalnya sadarlah, masalah apapun apalagi yg menyangkut RT, jgn sampe kedengeran org luar. Itukan aibnya keluarga ya.. masa iya pgn dipublish k org luar meski sahabat sendiri.. :) .jauh lbh aman kalo dibicarain aja ama suami toh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak. Saya sendiri udah ga pake diary hihi. Curhat sama suami aja langsung :D

      Hapus
  3. ya buat curhat, ya buat berantem juga. Hahahaaaa... gitu deh ya, Mba. Tapi emang kalu curhat mending ma suami sih. Walau kadang dia cuma nyaut Hmm... Hmm

    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Jadi pendengar yang baik mungkin :D

      Hapus
  4. amin
    iya, pasangan jadi suami/istri, jadi kakak, jadi sahabat, dll
    saling melengkapi

    kan ga ada yg ngelarang sms an ama suami sendiri hehehehe

    BalasHapus
  5. Iya, bener. Suami adalah sahabat saya. Saya bisa panjang lebar ngomong dan curhat, dia dengan sabar mendengarkan. Entah beneran dengar atau pura2 mendengarkan aja. Hehehe... Yang penting senang udah bisa keluar uneg2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang perempuan itu cuma butuh didengerin ya Mbak :D

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.