#BincangKeluarga: MPASI Antara Teori Vs. Praktek

Waktu dulu Emir mau masuk masa-masa MPASI, saya sama seperti ibu-ibu yang lainnya. Yang deg-degan, yang ketar-ketir gimana nanti ngurusnya, yang mikir gimana seandainya nanti si bayi nggak mau makan, dan endebrei endebrei lainnya.
Baca punya Mbak Rosa:

MPASI, antara teori vs. praktek

Teori: 
Di bayangan saya itu, saya bakal kasih Emir makan dengan mulus. Saya suapin, dia mangap dengan manisnya. Dengan menu-menu yang akan saya bikin dengan tangan sendiri. Lalu dia doyan dan makan dengan lahap sampai habis bersih tak bersisa. Pokoknya no makanan instan! 

Saya akan mempraktekkan ilmu 4 hari untuk kasih dia makanan yang sama. Setelahnya baru makanan baru. Lalu saya akan catat selama 14 hari untuk mengetahui apakah dia alergi dengan makanan tertentu atau tidak. 

Lalu tidak ada gula dan garam sebelum umur 1 tahun. Sip. 

Praktek: 
Haha saya rasa teori saya itu ada di bayangan setiap ibu *ups. Tapi pada realitanya? Prakteknya? Oke izinkan saya lanjut cerita saya lagi. 

17 Oktober 2016, hari pertama MPASI okelah, Emir makan dengan manisnya. Maem pisang yang dikerok pake sendok dan dia lahap sampai setengah buah. Begitu pun pas sore hari nggak ada kendala apapun. Sip hari pertama, catat. Pisang oke, pup lancar. 

Tapi di hari ini saya dapat kabar bahwa renovasi rumah akan dimulai tanggal 19 Oktober. Itu artinya saya harus ngungsi dulu ke tempat lain. Dan kami memilih kosan depan rumah supaya masih bisa mengawasi jalannya renovasi. 

Lanjut ke MPASI. Esokkan harinya, pas dicoba makan pepaya, iya sih dia masih mau makan, tapi dikiiiit banget. Dan dia nggak pup. Lusanya saya coba lagi pepaya, dia belum pup. Fix saya beranggapan kalo pepaya kurang cocok buat Emir karena bikin dia jadi nggak pup. Catat. 

Kembali ke pisang sampai berapa harilah itu saya lupa 🙈 Lama-lama saya mikir, masa mau makan pisang terus? Akhirnya kami ikhtiar dengan buah lain. Lancar sih.

Failed 1
Oh iya, di sini pupus sudah harapan saya untuk bikin MPASI homemade ala instagram kece bikinan saya sendiri. Karena rupanya di kosan depan rumah itu tidak ada dapur. Ada sih dapur bersama, tapi saya nggak mau, karena nggak nyaman. *Emak banyak alesan. 

Failed 2
Selanjutnya masuk makan bubur beras merah. Awal-awal masih mau, eeh tibalah saatnya dia GTM. Nggak mau makan! 

Karena suami merasa kerepotan kalau harus bolak balik ke rumah bikin bubur, akhirnya kami memutuskan untuk beli steamer plus blender yang sudah jadi satu. Tujuannya supaya lebih gampang dong. Tinggal kukus, lalu blender. Nggak pake ngukus di panci. 

Kami belikan labu kuning yang manis dan dikukus lalu diblender, dia doyan. Lalu apel, dan buah-buah yang lain. Ya gitulah ada kalanya dia lancar makannya, ada kalanya GTM. 

Akhirnya balik lagi ke bubur beras merah. Tapi kali ini kami campur sayur-sayuran, dan lauk seperti ikan. Tentu saja suami yang bikin hehe. FYI, rumah kami waktu itu yang direnov masih lantai bawah, jadi kami masih bisa memanfaatkan lantai atas. Tapi sayang, lantai atas itu kantornya suami yang saya nggak bisa ke sana karena karyawannya laki-laki semua. 

Lanjut, di sini hampir seneng sih karena bisa homemade. Tapi yaaa lagi-lagi Emir GTM. Udah aja, kami pasrah dia nggak mau makan ya udah.

Failed 3
Ah ya, lupakan soal catat mencatat menunya Emir. Karena saya keburu malas 🙈

Failed 4
Pas suami harus ke Jakarta untuk urusan kerjaan, saya dan Emir ke Lamongan alias rumah ibu mertua. Di sinilah Emir pertama kali dikenalkan bubur instan. Lha dalah, dia malah doyan. Labu kuning kukus yang saya bikin dengan cinta malah nggak dimakan hiks. 

Eeh pas balik lagi ke Surabaya, kami malah ketagihan beli bubur instan 😑 Selain praktis nggak repot, Emir juga makan dengan lahap. Yauda deh, pikir saya toh makanan instan nggak haram kok. Kan ada BPOM nya pula. Kadang kami seling juga sih dengan bubur bayi yang dijual di pinggir jalan. Eh tapi ternyata Emir lebih suka bubur kemasan instan 😑 mungkin karena lebih gurih dan manis. 

Failed 5
Soal no gula garam sebelum usia 1 tahun juga sudah pupus. Karena sebelum 1 tahun, Emir udah dikasih makan macem-macem. Ya es krim, ya kue-kue, dll. Termasuk bubur kemasan instan tadi. Kan itu udah pakai gula garam hiks. Eh tapi sebelumnya pas bikin bubur beras merah pun udah pernah dikasih garam sih sedikit sama suami 😑

Kondisi kita beda, ya terima aja

Haha ya itulah sedikit cerita aja. Walaupun banyak failednya dibanding teorinya, tapi saya bahagia sudah melewati masa-masa itu 😂 

Lupakanlah soal iri dengan postingan ibu-ibu di instagram yang menampilkan makanan-makanan 4 bintang yang cantik (?). Lalu dengan caption anaknya lahap. Huhu anakku anakku. Anakmu anakmulah istilahnya *eh. Kalau kata suami sih, ya maklumi aja. Kondisi kita kan beda. Rumah kita lagi direnovasi. Sedangkan rumah ibu-ibu yang di IG itu enggak. 

Jadi Buibu, kalau mengalami masa-masa yang tidak beda jauh dengan cerita saya, percayalah, bahwa kalian tidak sendirian kok 😂

Finally, ada hikmahnya sih. Saya jadi nggak berharap gimana-gimana nanti pas Elis masuk masa MPASI. Meskipun saya masih tetap punya harapan supaya bisa lebih baik lagi. Yah, kita lihat saja nanti 😂

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

6 komentar:

  1. kalau aku sih disesuaikan dg kondisi anak ya, gak saklek dengan teori

    BalasHapus
  2. Anak kedua biasanya kita lebih cuek dan easy going heheh

    BalasHapus
  3. Anak-anakku Alhamdulillah sukses semua tuh MPASI-nya. tapi setelah besar, jangan tanya GTM-nya, mengasyikan sekali, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi sekarang kalo Emir GTM, aku nggak memaksakan dia makan nasi. Kubiarin aja makan apa yg dia mau :D

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.