Bagaimana Caranya Mengurus Dua Anak yang Masih Kecil?

"Gimana rasanya ngurus dua anak? Apalagi masih kecil-kecil. Pasti kebayang repotnya. Apalagi nggak pakai asisten." 
Itu pertanyaan dan pernyataan yang paling sering dilontarin teman-teman dekat saya. Dulu pun saya sama dengan mereka. Melihat ibu-ibu yang punya dua anak balita kok kayaknya repot banget. Bahkan postingan kemarin pun sudah menggambarkan keraguan apakah saya bisa mengurus dua anak. 

via Pixabay
Tapi setelah ibu pulang dan akhirnya saya benar-benar mengurus dua anak, ternyata tidak sesulit apa yang saya bayangkan. Semua bisa terkendali dengan lancar. Mengalir begitu saja. Ah manusia memang slalu begitu, suka khawatir berlebihan 😂.

Lantas bagaimana saya bisa mengurus dua anak yang masih kecil dan jaraknya berdekatan? 

Kerja sama dengan suami

Yang perlu saya garis bawahi di sini adalah saya TIDAK mengurus anak sendirian. Saya juga punya asisten terbaik. Yaitu suami saya. Yap. Maka hal pertama yang dilakukan adalah ajak suami untuk bekerja sama. Istilah kasarnya mah bikin anak berdua, maka yang harus ngurus juga berdua dong. Jangan egois. 

Saat ibu pulang, saya dan suami sudah saling diskusi apa saja yang menjadi tugas masing-masing dan pembagian waktunya. 

Misalnya saja, suami saya walaupun kerja di rumah, tapi saya berusaha untuk nggak manja dengan mengandalkan beliau di saat jam kerjanya supaya tidak mengganggu. Jadi kalau masih bisa saya handle sendiri, ya saya kerjakan sendiri. 

Maka pembagian waktunya, suami mulai kerja jam 8. Itu artinya sebelum jam 8 sudah harus beres semua. Usai kami sholat subuh dan anak-anak masih tidur, kami langsung gerak cepat. Saya nyapu, suami ngepel. Kalau lagi ada cucian ya saya nyuci, jemur. Suami bikin atau beli sarapan. 

Begitu anak-anak bangun, saya mandikan adik, suami mandikan kakak. Setelahnya kami sarapan. Lalu saya mandi, dan bergantian dengan suami. Kadang sebelum jam 8 malah sudah selesai semua hehe. 

Enaknya suami kerja di rumah, ya kami bisa saling bergantian saat waktu sholat atau mandi sore. Tapi kalau misal Bunda yang suaminya kerja di luar ya tidak apa juga. Pasti bisa kok. Misalnya saat waktunya sholat, adik taruh di box, atau di tempat tidur. Lalu biarkan kakaknya bermain sendiri (yang pasti jauhkan dari benda-benda berbahaya). Syukur-syukur saat waktunya sholat dua-duanya tidur, jadi kita bisa sholat dengan tenang hehe. 

Begitu jam 5 sore, saat suami sudah usai kerja, ya sudah waktunya family time. Mau ngapa-ngapain ya bisa gantian 😁 Intinya ayah dan bunda harus kompak sebagai teamwork. 

Kakak dulu, baru adik

Lalu gimana pas suami kerja, anak rewel dua-duanya? Kita harus lihat siapa yang urgent rewelnya hehe. Kalau kakak masih bisa dialihkan dengan hal lain, maka beri hal lain itu. Begitu pula dengan adik. Misal lebih rewel kakaknya, alihkan adik pada hal lain. 

Tapi kalau dua-duanya tidak terkendali, yang pertama adalah urus kakak dulu. Cari penyebab rewelnya apa. Apakah dia lapar, haus, pup, atau ngantuk. Kalau sudah tahu, kita jadi lebih mudah menanganinya. Misalnya lapar, ya kasih makanan yang bisa dia pegang dulu, haus kasih minum, pup bersihkan dulu, kalau ngantuk ya susui dulu (kalau masih menyusu). Baru setelahnya urus adik. 

Kenapa harus kakak dulu? Karena kakak sudah mengerti. Jadi ia butuh diperhatikan lebih dulu supaya tidak merasa tidak diperhatikan. 

Tapi soal rewel ini pasti ibunya anak-anak lebih ngertilah ya cara menanganinya. 

Delegasikan pekerjaan yang bisa didelegasikan dan tunda pekerjaan yang bisa ditunda

Hanya dua yang tidak bisa didelegasikan. Mendidik anak, dan urusan kasur. Selain itu, semua bisa didelegasikan. Seperti urusan masak, yang agak repot, lebih baik beli aja atau pakai catering. Cucian dan setrikaan menumpuk, cuss taruh laundry aja. 

Begitu pun ketika semuanya harus kita lakukan sendiri. Jangan memaksa semua harus selesai hari ini. Misalnya nyuci, tidak perlu setiap hari. Bisa kita tunda jadi 3 hari sekali. Ngepel, jadi dua hari sekali. Masak, tidak perlu setiap hari. Bolehlah sesekali kita beli kalau memang tidak sempat memasak. Dan kerjaan-kerjaan lainnya yang bisa ditunda, ya lebih baik ditunda. 

Jangan memaksakan kita bisa mengerjakan semua pekerjaan. Apalagi memaksakan semua harus selesai sekaligus. Karena sekali lagi, prioritas kita yang utama adalah anak. Jangan mengorbankan diri dan anak demi pekerjaan yang sebenarnya bisa ditunda atau kita delegasikan ke orang lain. 

Kalau memang kita bisa mengerjakan semuanya sendiri dengan ikhlas tanpa mengeluh, ya monggo. Tapi sekiranya kita bakalan capek banget setelah ngurus anak, lebih baik tunda atau minta bantuan pihak luar. Karena biar bagaimana pun kita seorang ibu yang harus tetap waras 😁 Supaya anak-anak terurus dengan baik.

Kurangi ekspektasi kita

Kita boleh punya keinginan, tapi jangan menjadikan kita terlalu idealisme. Karena kondisi kita berbeda dan kita punya dua anak yang masih kecil. Maka segala ekspektasi kita, bisa jadi berbeda dengan kenyataannya. Misalnya berharap anak-anak tidur, sehingga kita bisa mengerjakan yang lain, tapi yang ada tidurnya malah bergantian (yang satu tidur, yang satu bangun). Berharap kerjaan selesai tepat waktu, tapi ternyata tidak selesai. Kalau kita idealis, yang ada kita jadi uring-uringan sendiri. Anak juga bisa jadi sasaran.

Ini juga sebenarnya pesan suami pada saya sih hehe. Tapi memang benar, saat saya menurunkan ekspektasi, mencoba lebih santai, menghadapi anak pun jadi lebih sabar. Jadi lebih ke 'ya udahlah emang kondisinya udah begini'. Mau lihat anak tetangga begini begitu juga udah sadar kalau kondisi kita memang berbeda. Alhasil kadar stres pun jadi menurun 😁

Baca: #PillowTalk: Ekspektasi vs Realita

Ikhlas, sabar, do'a. Maka kita PASTI BISA

Saya kira empat itu saja kuncinya. Selanjutnya, kata kunci tambahan dan sebenarnya yang paling utama adalah SABAR. Ikhlaskan kita sudah punya dua anak dengan jarak berdekatan. Karena hanya dengan ikhlas maka kita bisa berupaya untuk sabar. 
Dan jangan lupa untuk selalu memohon kekuatan pada Yang Maha Esa. Sebab tanpaNya, kita tidak ada daya dan upaya 😊

Terakhir, saya merasakan sekali, benar apa yang dikatakan salah seorang teman, "pasti saya akan menemukan celahnya." Maksudnya saya pasti bisa mengurus dua anak meskipun tanpa asisten luar. Pasti ada jalannya. Maka dari itu, KAMU JUGA PASTI BISA. Iya kamu, Bunda-bunda yang paling hebat 🙆

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

6 komentar:

  1. Alhamdulillah aku kebantu banged sama postingan mbak iniiii,, anakku 2 juga jaraknya deketan juga, mereka cuma beda 10 bulan dikira kembar hahahaha berantemnya yang bikin pusing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah bedanya 10 bulan malah. Semangat Mbak. Ini kakaknya juga kadang ngeplak adiknya 😂

      Hapus
  2. Waww. Saya aja ngurus anak 1 sampe kambuh asmanya mba. Hihihihi. Wah bener harus kerja sama kalau ga seorang ibu bisa lelah lahir dan batinnya. 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh haha. Iya biar ibu tetap bahagia 😂

      Hapus
  3. Aih, saya persis pengen bikin tulisan kaya gini kemaren, tapi ga jadi2. Semakin dijalani semakin paham ya bun trik mengatasi masalah pengasuhan dan apapun itu. Semoga kita tetap sejat dan waras ya bun

    Salam dari ibu beranak dua (juga) 😁

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.