Saat Kita Tidak Mengerti Apa-apa

Beberapa waktu yang lalu, Emir jatuh saat sedang dijaga oleh ayahnya. Apakah saya menyalahkan? Tidak. Lantas apa saya menjadi ibu yang cuek (HANYA) karena tidak marah pada suami? Tidak. Karena saya tahu ia sedang fokus menjaga anak dan tidak disambi main hp/melakukan yang lain.

Lalu kenapa saya tidak marah atau menyalahkan suami? Karena saya tahu, tanpa perlu dimarahi dan disalahkan, suami pasti sudah merasa dirinya bersalah sendiri. Dan tanpa dimarahi, ia pasti sudah merasa sedih karena anaknya jatuh. Jadi buat apa semakin membebaninya dengan memarahi dan menyalahkan? Toh tidak membuat jatuhnya jadi batal kan?
via. Pixabay
Demikian pula saat ada anak yang sakit, anak yang tidak mau makan, anak yang rewel, anak yang kurus dan lain-lain. Tanpa perlu disalahkan, setiap orang tua PASTI akan merasa dirinya bersalah. Sudah ada lah itu di dalam hatinya kesedihan-kesedihan karena anaknya 'berbeda' dengan yang lain. Bahkan bisa jadi kecewa dengan dirinya sendiri karena anaknya tidak seperti anak lain. 

Sayangnya kini yang seringkali terjadi adalah sebaliknya. Banyak yang menjadi hakim dadakan dengan menghakimi langsung, padahal tidak tahu kejadian sesungguhnya 😒 Banyak yang menjadi penasihat yang padahal tidak diminta. Merasa diri benar. Merasa diri lebih berpengalaman. Perasaan itu yang akhirnya dijadikan pembenaran untuk dengan mudahnya menyalahkan seorang ibu atau ayah 😥

Pahamilah, bahwa sesungguhnya kita tidak mengerti kondisi orang lain. Karena kita tidak melihat kehidupan mereka di belakang kita. Bisa jadi kita tidak tahu bahwa orang tua si anak sudah berjuang semaksimal mungkin. Memberi segala apapun untuk sang anak agar mau makan, agar anaknya tidak rewel, agar tidak kurus, dan sebagainya. 
Jadi salah jika kita menghakimi orang lain tanpa tahu keadaan sebenarnya. Karena sesungguhnya kita memang tidak mengerti apa-apa.

So, tidak selamanya kita perlu bicara. Ada kalanya diam itu justru bukan bentuk cuek atau tidak peduli. Tapi bisa jadi bicara justru menghancurkan perasaan orang lain. Peduli boleh pada apa yang kita ketahui. Tapi sekali lagi bukan untuk menghakimi dan menyalahkan apalagi tanpa solusi. Melainkan untuk memberi pemahaman bahwa setiap orang tua, apapun kondisi anaknya harus tetap tenang. Karena setiap anak memang berbeda kan ☺️

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

4 komentar:

  1. wah sebentar lagi saya jadi bapak mbak ... mantap banget ini artikelnya mbak ...syukron ya salam kenal mbak

    BalasHapus
  2. lah iya mba, suka males sama orang yang jadi hakim dadakan, nggak tau apa yang kita lakukan ujug-ujug ada dia seenaknya menghakimi. ini dalam beberapa hal ya mba, terlepas dari persoalan anak. Tapi memang, bakal sensitif banget kalo kondisi anak kita yang dijadikan bahan untuk menghakimi kita sebagai si-orangtua padahal mereka nggak tahu apa-apa. Ngenes banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak, rasanya nggak nyaman banget. Semoga bukan kita ya pelaku hakim dadakannya :)

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.