#BincangKeluarga: Begini Rasanya Jadi Ibu

Dulu saya sempat skeptis kalau saya bisa lama diamanahi anak. Bukan maksud suudzon, tapi saya merasa diri ini belum pantas menjadi ibu. Dengan keadaan saya yang belum bisa apa-apa, dalam artian belum lihai mengerjakan urusan rumah tangga dan sifat kekanak-kanakkan saya yang belum hilang.
Baca punya Mbak Rosa:

Nyatanya saya salah. Selang sebulan menikah, Allah memberi amanah saya hamil. Meskipun rasanya tidak percaya, tetap saja saya bersyukur. Malah justru dengan diberikan amanah ini pula saya jadi banyak belajar. Khususnya jadi ibu.

Begini rasanya jadi ibu

Kehamilan awal-awal saya jalani sangat berat. Mual tidak ketulungan sampai tidak bisa masuk apa-apa. Selalu muntah bahkan seharian. Sampai-sampai suami harus turun tangan untuk memaksa supaya saya tetap makan. Tidak enak. Rasanya tidak selera makan apapun sampai 5 bulan, sekalipun itu makanan paling enak dan favorit. Begini rasanya jadi ibu.

Setelah anaknya lahir, berkutat dengan ASI. Gimana supaya ASI keluar? Gimana biar ASI bisa lancar dan banyak? ASI keluar, malah ngeluh capek karena harus terus menyusui. Belum lagi kalau harus begadang karena bayi rewel dan menyusui. Begini rasanya jadi ibu.

Urusan anak nomor satu. Menyusui, memberi makan, menemaninya bermain, meniduri. Urusan lain harus ditunda. Pikiran rasanya seperti dikejar-kejar karena banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Begini rasanya jadi ibu.

Ibu harus bahagia supaya ASI lancar. Ibu tidak boleh stres supaya anak terurus dengan baik. Tidak peduli apapun masalahnya, ibu harus bisa menata pikiran dan hatinya dengan baik. Begini rasanya jadi ibu. 

Masya Allah. Begini rasanya jadi ibu. Tidak percaya tapi terharu. Lelah tapi bersyukur. Maka itu, setelah melahirkan saya langsung SMS ibu untuk minta maaf. Begitu ternyata rasanya melahirkan. Sakitnya luar biasa. Setelah anak lahir, lelahnya pun luar biasa. Harus selalu terlihat kuat di depan anak. Ingin mengeluh, tapi takut jadi kufur nikmat. Maka Maha Benarlah Allah dengan segala firman-Nya bahwa surga ada di telapak kaki ibu. Karena percayalah, bahwa kita sebagai anak, tidak akan pernah bisa  membalas jasa ibu sampai kapan pun.

Baca: Saat Saya Ingin Mengeluh

Tapi anak-anak ini tidak selamanya bayi. Tidak selamanya kita gendong. Ia akan terus bertumbuh dewasa. Kelelahan ini akan berlalu. Waktu akan terus berputar. Kelak kita akan menuai apa yang kita tanam.

Semoga apapun rasanya jadi ibu, tidak membuat kita (khususnya saya) menjadi kufur nikmat. Karena biar bagaimana pun, anak adalah amanah yang bisa menjadi ladang pahala bagi orang tuanya. Aamiin. 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Sumber : https://rumaysho.com/1663-terputusnya-amalan-kecuali-tiga-perkara.html

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.