Drama Melahirkan Anak Kedua: Kontraksi, Hiks!

Drama selanjutnya terjadi setelah melahirkan. Saya pikir, keinginan saya tercapai untuk melahirkan di bidan. Iya, dari anak pertama sebenarnya saya maunya lahiran di bidan, tapi karena dulu Hemoglobin saya rendah, jadi dirujuk ke rumah sakit.

Ealah.. Siapa sangka, lahiran di bidan memang nggak dijahit, tapi malah membuat drama baru 😥


Drama 1: Kontraksi, hiks!

Beberapa jam pasca melahirkan, perut saya mendadak kontraksi lagi. Rasanya mules lagi. Duh, ini kenapa kayak mau ngelahirin lagi? Iya, karena rasanya memang sama! 

Suami langsung manggil bidan. Ditekan-tekanlah perut saya. Kata bidannya, itu normal. Dengan kontraksi artinya bagus karena rahim sedang proses kembali ke ukuran semula. Tapi duh sakitnya, masya Allah. Saya pun disuruh sabar 😥

Beberapa menit setelahnya kontraksi hilang. Tapi beberapa jam kemudian, muncul lagi. Begitu saja terus. Sampai saat saya menyusui si adik, kok rasa kontraksinya makin jadi. Karena nggak kuat nahan sakitnya, akhirnya saya kasihkan adik ke ibu mertua hiks. 

Esoknya baru saya tahu kalau ternyata memang begitu. Dengan menyusui, kontraksi memang bisa semakin terasa karena ada rangsangan di payudara.  

Drama 2: Nggak bisa nyusuin 😵

Jadilah beberapa hari setelah pulang dari puskesmas, saya harus merasakan kontraksi yang hilang timbul selama beberapa hari. Dan sedihnya, setiap sakit kontraksinya datang, saya tidak bisa menyusui dua bayi saya (ya, saya memang berniat tandem nursing). Karena percayalah, itu sakitnya luar biasa. Malah bisa dibilang melebihi sakitnya mau lahiran hiks 😥

Alhasil pas malam pertama di rumah, semua begadang karena saya yang menahan sakit malam-malam. Ibu mertua yang harus menenangkan si adik, dan suami yang menenangkan si kakak karena saya tidak bisa menyusui 😵 Bapak mertua pun memberi saya air do'a. 

Beberapa jam setelah menenangkan diri dan istirahat, barulah saya bisa menyusui dua-duanya. Yang mana setelah menyusui, kontraksinya timbul lagi. Begitu terus sampai hari-hari selanjutnya. Maka jadilah setiap kontraksi, dua bayi dibiarkan menangis. Kalau kontraksinya hilang baru saya bisa menyusui. Hiks sedih! 

Karena saya tidak tega, akhirnya terpaksa saya dan suami mulai memberi Emir susu formula. Pikir kami, daripada adik yang jadi 'korban'. Maksudnya untuk mengurangi rasa kontraksi saya. Jadi saya hanya menyusui adik saja supaya sakitnya tidak berlarut-larut. Walaupun tetap saja kadang Emir maunya ASI.

Trus, kenapa nggak dipompa aja ASInya? Sudah, sudah dipompa. Tapi hasilnya tidak maksimal sama sekali. Dikit banget keluarnya huhu. 

Pergi ke dokter kandungan

Karena penasaran, akhirnya suami ngajak saya untuk USG ke dokter kandungan. Siapa tahu dengan USG bisa lebih diketahui sebabnya. 

Benar saja, setelah di USG dokter bilang ada jaringan yang tertinggal. Meski kontraksinya bagus, tapi kalau jaringan itu tidak juga keluar, maka harus dikuret. Duh, denger kata kuret saya langsung merinding. Ya Allah, jangan sampai dikuret 😵

Untuk mengeluarkan jaringan itu, saya pun dikasih obat peluruh. Sebenarnya dari puskesmas pun dikasih obat, tapi belum berefek signifikan. 

Dokter bilang efek samping dari obat peluruh itu akan membuat saya mules seperti akan BAB. TAPI TERNYATA, bukan mules itu. Tapi mules kayak kontraksi mau melahirkan. Haaaahh podo waeeee ieu mah 😥

Obatnya diminum 2x sehari. Sengaja saya minum pagi dan sore, biar malamnya saya tidak harus merasakan kontraksi lagi dan tidak membuat semuanya begadang lagi. 

Alhamdulillah, 3 hari setelah obatnya habis, saya tidak merasakan kontraksi lagi. Walaupun tidak ada darah yang menggumpal keluar, pikir saya mungkin darahnya memang sudah luruh. 

Dan Sabtu kemarin, saat saya kontrol lagi, Alhamdulillah kata dokter sudah bersih. Rupanya jaringan yang tertinggal itu namanya sisa ari-ari. Nah sisa ari-arinya ini yang sudah tidak ada. Masih ada darah yang menggumpal kecil-kecil sih, tapi kata dokter nggak apa-apa, nanti keluar barengan darah nifas. Yang penting nifasnya harus maksimal 60 hari. Kalau lebih dari itu, saya harus kontrol lagi ke dokter kandungan. Duh semoga nggak lebih dari 60 harilah. Aamiin. 

Ya gitu deh. Ternyata perjuangan belum berhenti sampai melahirkan. Tapi harus berlanjut sampai setelah melahirkan karena kontraksi 😥

Hikmahnya sih, saya jadi tahu kalau kontraksi setelah melahirkan itu justru bagus. Kalau tidak kontraksi malah bahaya karena bisa terjadi perdarahan dan yang lebih parah bisa sampai harus dikuret. 

Dan tentang susu formula, walaupun awalnya saya idealis nggak mau kasih anak sufor sebelum umur 2 tahun, tapi kalau sudah terjadi kayak kemarin, mau dikata apa. Toh sufor tidak akan menyakiti anak kan. Lagi pula, sekarang frekuensi sufor Emir sudah berkurang karena saya sudah bisa menyusui dengan tenang 😊 

Alhamdulillah bisa ngerasain tandem nursing hehe 😁

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

16 komentar:

  1. saya anak pertama melahirkan di rumah sakit mbak cuma karena takut kenapa-napa hehehe lebay banget ya. Anak kedua dan ketiga di bidan, dan ternyata saya melahirkan di bidan lebih nyaman untuk saya. Apalagi anak kedua dililit tali pusatnya anak ketiga overweigth. Tapi si bu bidan ini cepat tanggap menanganinya jadi alhamdulillah gak ada masalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lahiran di bidan emang lebih nyaman sebenernya. Apalagi anak dan ibu ga dipisah. Pengalaman lahiran di RS, anak dan ibunya dipisah dulu huhu

      Hapus
  2. Saya pun pengen banget mbak punya anak lagi, rasanya mengulang moment melahirkan tuh enak juga walapun saat melahirkannya sakit banget ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Hamilnya juga seneng sih, tapi melahirkannya sakit hihi

      Hapus
  3. lahiran anak pertama aku jg gitu, ada jaringan yg msh tertinggal jg. Tp wktu itu jaringannya udh mw keluar dan bikin aku kesakitan klo aktifitas. Dan bertepatan kontrol di bidan, lgsg deh dikeluarin dg cara diteken2 perutku, sakit bgt, itu pun bidn yg muda gk bs ngeluarin, dipanggilin bidan seniornya, gak pake sakit lgsg keluar, haha. Hbs dikeluarin aku ngerasa lbh sehat dan gk skt klo duduk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ibuku juga diteken2 sama bidan dan langsung keluar. Kalo aku malah blm keluar2 huhu

      Hapus
  4. Alhamdulillah akhirnya drama kesakitannya selesai ya Mba', semangat terus Mommy! :)
    Aku kemaren anak kedua juga di bidan, Alhamdulillah semua baik2 saja. Jangan kapok melahirkan lagi ya, hehe. Sehat selalu, Aamiin. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah ga kapok. Cuma abis ini jeda dulu deh hihi

      Hapus
  5. Kok ngebayanginnya sakit banget ya mbak. Aku blm nikah jd ngilu membayangkannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi nanti insya Allah merasakan kok Mbak :)

      Hapus
  6. perjuangan setiap ibu sebelum dan sesudah melahirkan itu warbiyasah ya, mak ... tentang sufor, iyya mada pun kudu minum sufor selama 3 hari setelah lahir karena aku diopname di rumah sakit gara2 pendarahan gak berhenti setelah 3 jam melahirkan ... sekalian dikuret juga di rumah sakit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, luar biasa juga pengalaman Mak Maria >_<

      Hapus
  7. teteh, ini mah mirip sama mama sha pas lahiran adek waktu itu. Alhamdulillah, untungnya teteh langsung ketemu di usg. dulu mah belum musim usg, mama sampe harus curretage dan butuh donor darah banyak banget karena kontraksinya nyebabin pendarahan..

    BalasHapus
  8. alhamdulillah kondisinya semakin membaik, ya. :)

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.