Inilah Alasan Mengapa Nikah Harus Dipelajari

Nikah itu harus dipelajari. Ini adalah satu hal yang sering saya tekankan pada teman-teman saya yang masih single. Bukan tanpa alasan. Saya bisa mengerti bagaimana rasanya menjadi single yang rindu menikah. Bagaimana rasanya ingin bertemu sang pangeran yang entah ada dimana dan bagaimana wujud rupanya. Atau bagi yang pacaran, bagaimana ketika pacarnya bisa menjadi suami halalnya. Tapi saya juga tidak mau kalau mereka sampai membayangkan hanya yang enak-enaknya saja tentang menikah. Sholat ada yang ngimamin, nggak perlu kerja lagi karena ada suami yang nafkahin, setiap malam ada teman curhat yang setia. Memang semua itu benar, tapi menikah tidak sesederhana itu 😊


Menikah bukan sekedar sah, lalu kita bisa melenggang kangkung jalan-jalan indah dengan pasangan. Kalau sedari awal kita tidak punya pegangan, bisa dipastikan kita akan terkejut mendapati banyak masalah yang menimpa rumah tangga.

Ta'aruflah dengan detail 😊

Ada dua cara yang bisa kita tempuh untuk menikah. Ta'aruf atau pacaran. Fine kalau pacaran mungkin sudah sama-sama kenal dengan pasangan dan keluarganya bahkan bisa menciptakan hubungan yang baik. Tapi kita tahu kalau jalan ini tidak berkah karena ada aktivitas zina di dalamnya. Lalu ta'aruf, di sinilah yang seringkali jadi masalah. Bukan, ta'aruf tidak salah. Berkah juga caranya dan lebih diridhoi Allah. Hanya satu yang harus kita ingat, bahwa ta'aruf bukan sekedar mengenal luar calon pasangan dan keluarganya. Lebih dari itu, di dalam ta'aruf pun dibolehkan untuk mengenal lebih jauh bahkan sampai bagian paling detail ke dalam sekalipun.

Maksudnya begini, saya masih banyak menemukan pasangan yang bermula dari ta'aruf mendapat masalah di tengah-tengah rumah tangganya. Ada yang tiba-tiba terkejut karena pasangannya 'ternyata begitu ya', ada yang terkejut karena ternyata mertua dan iparnya tidak sebaik di awal dan banyak ikut campur. Akhirnya masalah-masalah itu seringkali membuat orang berpikir bahwa ta'aruf tidak bisa dijadikan perkenalan saat akan nikah karena bisa menimbulkan masalah, hiks.

Duh, padahal tidak begitu. Kalau mau tahu yang sesungguhnya, saat proses ta'aruf kita bisa mencari tahu secara detail bagaimana karakter pasangan, bagaimana kebiasaannya, bagaimana ketika dia begini dan begitu, lalu apa sikapnya. Sampai keluarganya pun bisa kita cari tahu semuanya. Maka di sinilah pentingnya mencatat detail dalam CV ta'aruf. Ya, CV ta'aruf yang pernah saya pelajari, bukan sekedar menulis biodata diri. Tapi lebih detail seperti menyebutkan karakter diri, kekurangan dan kelebihan diri, kebiasaan sehari-hari, kebiasaan dan tradisi keluarga. Bahkan sampai keinginan kita kelak pada pasangan dan keluarganya juga masalah ekonomi, anak, dan tinggal dimana setelah menikah juga disebutkan. Yang semuanya harus ditulis dalam keadaan sadar dan jujur.

Nah lho, ini kok jadi bahas ta'aruf ya? Hehe jadi dari ta'aruf ini sebenarnya kita bisa belajar supaya kita tidak tergesa-gesa untuk menikah. Prosesnya memang benar. Tapi jangan sampai ada yang hilang karena kita kurang mencari tahu secara detail tentang pasangan dan kita akan terkejut setelah menikah 😓

Balik ke bahasan awal. 

Kenapa nikah harus dipelajari? 

Supaya kita tidak memasang ekspektasi-ekspektasi terlalu tinggi. Supaya kita tahu bahwa dalam pernikahan akan ada banyak masalah yang kita temukan. Mulai dari perbedaan karakter dan kebiasaan dengan pasangan. Masalah ekonomi, anak sampai mertua dan ipar yang kadang tidak terduga. Kalau semuanya tidak kita persiapkan, niscaya bukan hanya terkejut, tapi bisa saja akan membuat kita menyerah dan putus asa di tengah jalan. Naudzubillah.

Maka dengan mempelajari bagaimana kehidupan pernikahan sejak masih sendiri, setidaknya kita memiliki gambaran bahwa dalam pernikahan akan ada banyak riak gelombang yang harus kita hadapi kelak. Kita bisa belajar dari buku-buku atau seminar pernikahan. Kalau malas melakukan keduanya, kita bisa melihat bagaimana rumah tangga orang tua dan orang-orang sekitar kita. Kalau kita peka memperhatikan sekitar, pasti ada satu dua hikmah yang bisa kita jadikan pelajaran 😊

Intinya, semua kita pelajari supaya kita bisa lebih siap dan bijak menghadapi pernikahan dan rumah tangga. Kelak ketika kita sudah menikah, maka kita tidak akan terkejut lagi jika bertemu dengan satu dua masalah karena kita sudah punya gambaran apa yang harus kita lakukan 😊

So, are u ready?😊

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

5 komentar:

  1. Terimakasih bunda sudah mengingatkan. Saya dengan suami juga taaruf 😃

    BalasHapus
  2. Aku kaget, mak. Jujur. Karena awalnya, aku mikir nikah itu adalah sesuatu yang dialami. Bukan sebuah objek, melainkan sarana untuk kita belajar lebih banyak lagi di dalamnya.

    Buta banget pula dengan yang namanya ta'aruf. Sampai saking keponya, korek temen lagi hihi
    Tfs ya mak, secara pribadi ini bermanfaat buatku. Seneng bisa belajar kepercayaan lain :)

    BalasHapus
  3. Iya mba setuju...memilih pasangan (dan keluarganya) harus dilakukan secara matang...supaya hubungan pernikahan kuat...biasanya karena tuntutan lingkungan para single ladies jadi merasa "kepepet"...oops...curcol hehe

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.