#BincangKeluarga: Baper dengan Postingan Orang Lain di Media Sosial

Ada yang bilang, jadi ibu di zaman sekarang tuh berat. Banyak warnya bahkan sampai dibikin versus segala. Working mom vs. Stay at home mom, lahiran normal vs. lahiran cesar, ASI vs. sufor, Pospak vs. no pospak, MPASI homemade vs. MPASI instan, ah banyak deh ibu-ibu sekarang pasti taulah ya. 
Lalu mulai ada yang bandingin, "ibu-ibu kita dulu, zamannya nggak gini-gini amat. Adem ayem aja tuh walaupun beda-beda" Haha yaiyalaah. Secara zamannya ibu-ibu kita kan memang belum ada media sosial atau malah belum ngerti internet (?). Lah sekarang? Internet merajalela, media sosial merebak, apapun bisa ditulis di status medsos, bisa ditulis di blog, foto dikit-cekrek-upload di media sosial. Intinya semakin mudahlah sekarang.

Sebenarnya bisa dibilang beruntung juga lho kita di zaman sekarang. Kita bisa dengan mudahnya dapat berbagai informasi. Khususnya dalam dunia per-ibuan. Informasi-informasi tentang program kehamilan sampai hamil itu sendiri, melahirkan, anak, sampai rumah tangga bisa kita dapatkan dengan mudah dari internet atau media sosial. Kemudahan ini juga diikuti dengan semakin merebaknya 'eksistensi' ibu-ibu. Alias semakin banyak ibu-ibu yang melek internet dan mulai memanfaatkan media sosial. Eksistensi inilah yang sekarang jadi sering menimbulkan gesekkan-gesekkan. 

Gesekkan apa sih maksudnya? Yah sorry to say ya, kalau kata anak muda sekarang mah "baper". Stop! Sebelum menjudge, mari kita lanjutkan dulu hehe. Saya sering merhatiin media sosial (kurang kerjaan amat sih). Misalnya postingan tentang ibu yang melahirkan cesar, langsung ada komen-komen yang mengatakan bahwa lahir normal itu lebih baik, karena bisa merasakan perjuangan ibu sesungguhnya. Kemudian dibales sama ibu-ibu yang lahir cesar, bahwa cesar itu juga sakit lho. Yah, ujungnya jadi debat panjang. Ada lagi masalah stay at home mom. Saat si ibu bercerita tentang mulianya dia sebagai ibu rumah tangga, ada komen yang berdalih working mom kan juga seorang ibu. Yah bisa ditebak, ujungannya jadi panjang lagi. Itu baru dua masalah, belum masalah-masalah per-ibuan lainnya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Seringkali apa yang kita bicarakan, bisa jadi ditanggapi berbeda oleh orang lain.

Well, intinya sih pemikiran setiap orang ya memang nggak sama. Bisa jadi apa yang menurut kita baik, di mata orang lain belum tentu sama baiknya. Bisa jadi maksud kita posting A, tidak sama dengan yang dipersepsikan oleh orang lain. Akhirnya karena berbeda, maka bermunculanlah komentar-komentar yang bernada negatif. Belum lagi kalau tambah 'dipanas-panasi' oleh akun-akun tak bertanggung jawab, alias bikin judul atau caption seenaknya. 

Saya pernah baca tuh sebuah fanpage kedokteran yang membagikan postingan tentang lahiran cesar di websitenya, tapi menulis captionnya (kurang lebih), "inilah 5 faktor lahiran cesar, metode ini seringkali dipilih ibu karena tidak menimbulkan rasa sakit." Wow komen-komennya langsung rame. Si fanpage menuliskan "tidak menimbulkan rasa sakit", ya jelas aja kalau banyak ibu yang tersinggung, apalagi sudah merasakan lahiran cesar langsung. Andai tidak ada kata-kata "tidak menimbulkan rasa sakit", saya rasa banyak ibu yang lebih adem nanggepin postingannya. Padahal isi artikel di websitenya sendiri juga bagus. Sayangnya karena caption tersebut, keburu muncullah komentar-komentar bernada sinis.

Lain lagi kasus ibu yang sedang menyusui anaknya dan memberi edukasi bahwa ASI itu baik, tiba-tiba saja ada komen bernada sinis yang mengatakan bahwa tidak semua ibu bisa menyusui dan terpaksa memberikan anaknya sufor. Padahal ya tidak ada salahnya dengan edukasi ASI tersebut, bahkan si pemosting juga sama sekali tidak menyinggung sufor atau buruknya sufor. Tapi karena daya tangkap orang-orang berbeda, jadilah muncul komentar bernada negatif. 

Yeah, masih banyak lagi kasus-kasus lainnya. So, pada akhirnya ya dikembalikan lagi ke diri kita sendiri. Apapun yang ada di media sosial, tidak perlu semuanya perlu kita tanggapi atau bahkan komentari negatif. Soal perasaan, juga hanya diri kita sendiri yang tahu. Kalau memang kita rasa postingan itu 'menyinggung' kita, daripada berpikir mau menanggapi apa, alangkah baiknya kalau kita tutup medsos untuk sementara waktu sampai perasaan kita lebih baik dan tidak berpikiran negatif. Karena tidak semua postingan ditujukan untuk kita. Atau bisa jadi postingan itu memang bukan untuk kita.

Dan ketahuilah, bahwa setiap foto dan tulisan di media sosial, bisa jadi hanya bingkai yang sekedar ada di depan mata kita. Selebihnya, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di belakang kita sesungguhnya 😊

Demikian sebaliknya, alangkah bijaknya setiap apa yang kita posting, sudah kita pikirkan dampak baik buruknya. Jangan terkejut jika postingan kita bisa menimbulkan komentar yang berbeda atau bernada negatif. Karena biar bagaimana pemikiran dan sensitivitas setiap orang memang berbeda :)

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

12 komentar:

  1. Aku sih termasuk yg suka easy going aja nanggepin postingan2 yg ada yaa.. Jd jrg baper.. Walo ditulis ttg lahiran normal lbh baik misalnya, sementara aku yg memilih cesar, ya udah toh.. Masing2 ibu tau apa yg terbaik buat dia. Aku mah ga bakal panasan dgn nanggapin yg malah bikin panas suasana :D. Makanya suka heran mba, kalo ada org yg dikit2 baperan.. Duuuh, ga capek apa yaa.. Mbok ya segala sesuatu diliat aja sisi baiknya gitu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu Mbak krn pemikiran dan sensitivitas setiap orang berbeda hiks

      Hapus
  2. Aku termasuk santai mba Ade kalo nanggepin pro kontra apapun di medsos.. Eh tp pernah sekali ngerasa Baper sama status temen d fb trus jadi kepikiran buat bikin tulisan buat ngomenin d blog deh.. Hihi

    BalasHapus
  3. Waduh. Kalo nanggepin emak2 pada war-waran bakalan nggak ada habisnya. Aku kadang geli kalo iseng baca komen di grup ibu-ibu. Perasaan nggak terlalu nyinggung banget tapi reaksinya berlebihan.

    Emang kalo cethek atine ya gitu. Belum baca isi seutuhnya, nggak coba dipahami dulu, udah langsung nyolot aja. Hadeh, pantesan mukanya para istri udah kayak embak atau bahkan emaknya suami. Hahaha.

    Kalo kita mah woles aja ya. Biar tetep awet muda. Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia. Karena artikelnya biasa aja padahal, tapi karena baca cuma separuh atau bahkan ga dibaca, tapi komennya udah aduh -_-

      Iya Mbak, biar wajah tetep kayak remaja *ups :v

      Hapus
  4. Mudahnya mendapat informasi rupanya membuat banyak orang makin pinter membuat opini, Mbak. Efeknya bikin orang lain gak nyaman. Termasuk bikin status yang pro kontra. Siapa yang status, siapa juga yang merasa dikatain, haha.. Semoga kita gak gampang terpicu yah.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sayang banget ah kalo gampang terpicu :D

      Hapus
  5. Belum jadi ibu, tapi aku juga sering lihat banding-bandingin gitu. Aku berusaha netral aja. Karena aku belum ngerasain, cuma yg bener ya gabisa nyamain badan satu dg lainnya.

    Misal harus banget sesar, dan takut dicap ibu-ibu gak sempurna ya tetep kudu sesar. Gak bijak jatuhnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak. Namanya bandingin, semua rasanya ga bijak :)

      Hapus
  6. Setiap hal pasti ada pro kontranya, yang terbaik tentu kembali ke pribadinya masing-masing. Gak bisa disamakan untuk setiap orang, karena kondisi tiap orang berbeda-beda. Gossip di sosmed kudu direspons dengan santai ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah, karena kita tidak tahu kehidupan seseorang yang sesungguhnya :)

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.