Awasi Bacaan Anak-anak Kita Sebelum Terlambat

Apa yang dibaca anak-anak saat ini akan menentukan kualitas mereka 20 tahun yang akan datang. 
Kalimat di atas saya baca di status seorang teman Facebook. Mungkin berdasarkan sebuah penelitian atau bagaimana saya belum tahu. Mohon informasinya jika ada yang tahu 😊 Terlepas dari akurat atau tidaknya, saya justru memandang ada benarnya kalimat tersebut. Yang jelas sejak dulu saya meyakini bahwa bacaan seseorang akan berpengaruh pada tulisan seseorang.

Saya pernah terlibat di komentar sebuah status yang mengeluh tentang anak di bawah umur yang bisa menuliskan cerita-cerita dewasa. Sebenarnya ini rasa kekhawatiran yang sudah lama. Di saat saya mulai aktif di berbagai komunitas buku, tidak sedikit saya menemukan anak-anak dengan usia di bawah 17 tahun yang bacaannya 'menyeramkan'. Bukan menyeramkan karena horor, melainkan buku bacaan mereka sarat bicara pornografi di dalamnya. Bicara soal seks, hubungan laki-laki dan wanita di ranjang, bahkan beberapa tertulis dengan frontal dan kebanyakan ditulis oleh penulis luar negeri. Astagfirullah.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa mereka mengoleksi buku semacam itu. Apakah orang tua mereka tidak tahu? Yang bahkan dari sampulnya saja sudah terbaca jelas karena terkadang gambar yang ditampilkan pun sosok pria dan wanita.

Terserah kalau mungkin ada yang bilang saya lebay, kuno atau apa. Yang jelas saya tetap merasa miris melihat buku-buku bacaan yang belum cocok untuk usia mereka. Ada yang bilang, "kan cuma baca, nggak diimajinasikan." Yakin? Setahu saya kalau baca buku apalagi itu fiksi, kita pasti akan membayangkan ceritanya. Sederhananya misalnya si tokoh berbicara sedang dalam hotel yang mewah. Kita pasti akan membayangkan bagaimana desain mewah hotelnya. Kenyamanan hotelnya, dan lain-lainnya. Atau si tokoh sedang membicarakan khasiat teh hijau dan rasanya yang nikmat. Pastilah kita mulai membayangkan rasa teh hijau yang nikmat itu. Lalu bagaimana jika si tokoh sedang di dalam kamar bersama pasangannya atau lawan jenisnya lalu mulai digambarkan adegan yang mengarah ke adegan dewasa? Iyakah kita tidak membayangkan? Naudzubillah.

Bacaan sama saja seperti sebuah tontonan yang imajinasinya timbul dengan sendirinya di dalam pikiran kita. Maka rasanya mustahil kalau kita baca justru kita tidak membayangkan. Kalau seperti itu kejadiannya, sama saja seperti kita baca, tapi pikiran kita kemana-mana dan tidak fokus pada bacaan.


Awasi bacaan anak-anak kita sebelum terlambat

Maka kembali ke keluhan seorang teman tadi tentang tulisan dewasa dari anak di bawah umur. Akhirnya saya sudah tidak heran bagaimana si anak bisa menulis tulisan yang ceritanya dewasa. Ya, tulisan seseorang akan dipengaruhi dari apa yang dia baca. Saya tidak mahir menulis fiksi, karena bacaan saya kebanyakan buku-buku non fiksi. Saya cenderung menulis baku, karena bacaan saya memang menggunakan bahasa baku. Dan tulisan si anak tadi maka bisa disimpulkan sendiri apa yang dia baca. Demikian pula penulis-penulis lain yang tulisannya dipengaruhi oleh bacaan mereka. Intinya tidak mungkin seseorang pandai menulis jika dia tidak pernah membaca.

Well, memang dikembalikan lagi pada kita sebagai orang tua. Sangat tidak salah kalau anak suka baca buku. Tapi sebisa mungkin kita mengenalkan bacaan pada anak sesuai usianya. Agar semua berjalan sesuai tahapan dan tidak melampaui batas. Dan sebisa mungkin apapun yang anak lakukan kita tahu. Agar tidak ada kecolongan seperti ini. Di zaman yang semakin mengerikan, bukan tidak mungkin jika bacaan bisa berpengaruh lebih besar pada perilaku. Naudzubillah. Lingkungan juga berpengaruh, tapi selama orang tua sudah memberikan pondasi akhlak pada anak, insya Allah anak akan tumbuh dengan pendiriannya.

Jadi, apa bacaan anak Bunda hari ini? 😊

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

6 komentar:

  1. Orang tua yg sibuk mmg terkadang lupa soal bacaan anak2 ini (tidak semua lho) contoh nyata saya sendiri. Dulu saya suka baca2 komik candy2,doraemon dll sampai malas belajar. Pulang sekolah baca komik. Begitu orang tua pulang kantor komik langsung saya umpetin di bawah baju2 di dlm lemari. Pas malam waktunya belajar.. pintu kamar saya kunci. Ortu tahunya belajar padahal lanjut baca komik. Beruntung dulu saya gak baca bacaan2 syerem... cuma candy2 aja. Dan beruntung pula sepertinya ortu saya sepwrtinya curiga dan pada suatu saat ngecek lemari saya. Mungkin utk ortu yg sibuk sekali2 bisa ngecek isi lemari isi tas isi laci putra putrinya utk memastikan semuanya aman terkendali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak. Perlu banget untuk sesekali dicek ya

      Hapus
  2. Marwah masih senang baca cerita bergambar, hehe. Makasih remindernya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Asal gambarnya aman aja ya hehe

      Hapus
  3. emang saat anak lagi baca buku, kita perlu mengawasinya, sebab sekarang ini banyak buku yang berbau pornografi dan sebagainya.. jadi harus waspada..

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.