7 Hal Inilah yang Saya Pelajari Selama Mengarungi Kehidupan Pernikahan

Saat umur 20an, entah kenapa saya rasanya ngebet sekali nikah. Entah efek lepas dari pacaran atau bagaimana. Yang jelas, saya merasanya sudah kepingin aja menikah. Bukan karena capek kerja dan kuliah juga sih, tapi kayaknya seru aja bisa nikah muda tepat di umur 20 hehe. Lalu iseng-isenglah saya nanya ibu, "Bu, Ade udah pantes nikah belum?" Kata ibu, "Beluuuum!" sambil tersenyum. Saya ngebatin, duh kok bisa ya? Masa sih saya belum pantas nikah? Sedangkan saya merasanya, sudah tuh 😚
via https://pixabay.com/id/jantung-cinta-keterlibatan-1728511/
Kenapa ibu sampai bisa bilang saya belum pantas menikah? Pasti ada sesuatu. Kenapa harus nanya ibu? Karena ibulah yang paling tahu karakter saya. Maklum, dari lahir saya nggak pernah jauh dari ibu hehe. Maka wajar saja kalau ibu hafal semua baik buruknya saya. Nah, dari sini deh kepikiran, berarti masih ada yang salah dari sifat-sifat dan sikap-sikap saya selama ini. Makanya menurut ibu, saya belum pantas nikah.

Setelahnya saya pikir-pikir lagi, ternyata memang masih banyak yang harus diperbaiki dari saya. Dari situlah saya mulai berburu buku-buku atau ikut seminar tentang pernikahan. Dan poin terbesar yang saya dapatkan dari buku-buku dan seminar itu adalah perbaiki diri dulu, maka jodohmu akan datang. Jadilah saya nggak ngoyo lagi. Mulai dibawa santai aja. Toh kakak saya juga belum menikah yang usia 30an juga belum menikah kok. Kenapa saya yang baru 20an udah ngoyo banget? 

Alhamdulillah, disaat santai itu, Allah mengirimkan pangeran untuk saya di usia 22 tahun hehe. Memang benar, mungkin dulu sikap saya masih harus diperbaiki, do'a saya juga kurang tulus. Nah disaat saya mulai ikhlas membenahi segala-galanya bukan hanya semata untuk mendapatkan jodoh, justru disitulah Allah menjawab semuanya. Menjawab apa yang saya butuhkan dan saya pun sudah diizinkan untuk menikah. Barakallah πŸ˜‡

Sekarang, sudah satu tahun usia pernikahan saya dan suami. Saya nggak bilang saya bisa menikah karena diri saya sudah baik. Karena pada kenyataannya, sampai sekarang pun saya masih belajar banyak kok. Tepatnya, 7 hal inilah yang saya pelajari selama mengarungi kehidupan pernikahan.

1. Kedewasaan

Yes, ini poin paling utama. Pernikahan itu ternyata memang tidak hanya bahagia, tapi banyak sekali ujiannya, masalahnya :v Masalah-masalah inilah yang akhirnya menguji kedewasaan saya. Sejauh mana saya bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah. Sejauh mana saya bijak menghadapi semua ujian tersebut. Dan sejauh mana saya bisa bertahan dan tidak gegabah dalam mengambil segala keputusan. Maka dari sini saya bisa bilang, bahwa menikah dan berumah tangga adalah sebaik-baik pelajaran hidup 😌

2. Mengalahkan rasa egois

Saat single, saya bisa hanya memikirkan diri sendiri. Kalaupun memikirkan keluarga, tidak seberat setelah menikah karena saya masih hidup dengan orang tua. Ya, setelah menikah saya belajar untuk mengalah. Katakanlah saat saya dan suami sedang sama-sama emosi, kalau salah satu tidak ada yang mau mengalah ya perang jadinya. Mengalah ini memang butuh kesabaran ekstra tinggi. Harus dipikirkan masak-masak, saat emosi negatif keluar apa sih dampaknya? Kalau buruk, memang siap menghadapinya? Nah hal-hal inilah yang membuat saya belajar untuk memikirkan segala sesuatunya lebih jauh. Kalau suami emosi, ya saya diam. Begitu pun sebaliknya. Karena mengalah bukan berarti kalah, tapi masing-masing saling memikirkan dampak jauh ke depannya.

3. Saling memahami

Ini mungkin jadi bagian dalam mengalahkan rasa egois. Gimana caranya bisa saling memahami. Suami istri kan sudah pasti banyak perbedaannya. Bahkan dari hal remeh sekalipun seperti kebiasaan-kebiasaan di rumah. Karena kan memang tadinya suami istri hidup di rumah terpisah, jadi wajar kalau banyak perbedaan. Saat setelah menikah semuanya jadi terbuka, mau nggak mau satu sama lain harus saling memahami. Kalau ada yang bisa diperbaiki, ya perbaiki. Kalau sulit atau sudah menjadi karakter ya sudah berarti memang harus dipahami. Intinya sih, jangan sampai jadi ribut aja gara-gara masalah sepele hehe. Walaupun untuk ini pun saya masih belajar😐

4. Mandiri

Bisa dibilang, saya ini tipe yang manja 😐 Apalagi suami juga masih kerja di rumah, jadilah saya merasa banyak sekali dibantu. Tapi saya juga harus memikirkan, bagaimana kalau nanti suami sudah punya kantor sendiri? Mau tidak mau, saya harus benar-benar jadi ibu rumah tangga yang mandiri. Serba melakukan segala sesuatunya sendiri. Untunglah suami sekarang mulai mendidik saya untuk mandiri. Dibantu hanya untuk hal-hal tertentu saja atau saat urgent saya sedang sakit misalnya πŸ˜‹

5. Membedakan kebutuhan dan keinginan

Misalnya urusan pengeluaran, dulu saya gampang aja mau beli segala sesuatu yang saya inginkan. Toh saya punya penghasilan sendiri. Tapi setelah berkeluarga, nay nay nay haha. Segala sesuatunya harus bisa saya pikirkan. Dan suamilah yang jadi rem saya. Beliau lebih bisa membedakan yang mana kebutuhan, yang mana cuma keinginan. Jadi untuk banyak hal, saya memang meminta pertimbangan beliau supaya nggak salah jalan hehe.

6. Mengurus anak

Saya nggak selihai adik saya yang sudah bisa momong bahkan mandikan keponakan. Yes, dulu saya tidak terbiasa dengan anak kecil. Makanya, pas tahu sebulan nikah saya langsung hamil, saya excited banget dan nyaris nggak percaya. Kok bisa ya, orang kayak saya dikasih hamil cepet. Tapi Allah Maha Tahulah. Mungkin dari hamil dan punya anaklah saya bisa belajar bagaimana rasanya mengurus anak. Iya, akhirnya saya belajar dengan terjun langsung mengurus anak yakni anak sendiri haha 😁

7. Menentukan skala prioritas

Sebenarnya sejak single saya sudah terbiasa dengan prioritas. Tapi setelah menikah hal-hal yang harus dilakukan lebih banyak, jadilah saya lebih bisa menentukan skala prioritas. Yang mana yang harus saya dahulukan, yang mana yang bisa saya tunda. Kadang kalau lagi melenceng, lagi-lagi suamilah yang jadi rem saya. Beliau yang jadi pengingat supaya saya nggak grabak-grubuk pengen melakukan segala sesuatunya di satu waktu πŸ˜„

Yah, 7 hal itu deh kira-kira yang saya pelajari selama mengarungi kehidupan pernikahan. Walaupun sebenarnya buanyak banget yang lainnya. Dan sampai sekarang saya masih merasa banyak kekurangannya. Entah saat jadi istri, atau pun saat jadi ibu. Tapi saya selalu percaya, belajar itu memang seumur hidup dan nggak pernah berhenti πŸ˜‡

Suamiku, maafkan istrimu ya yang masih banyak sekali kekurangan 😟
Anakku, maafkan Bunda ya yang masih banyak kesalahan 😟

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

12 komentar:

  1. Hai mba
    Aku juga merasa banyak banget ya pelajaran yang diperoleh saat menikah. Paling utama adalah mengurangi sifat egois :)

    BalasHapus
  2. mantab bund share pengalaman nya...
    bisa jadi referensi ane kl dah nikah ntar...
    yang paling sulit itu dilakukan "mengalahkan ego masing-masing"

    BalasHapus
  3. Yang seringkali terasa sulit dikemudian hari adalah saling memahami, dan meredam ego adalah hal bijak yang bisa dilakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap betul. Sulit tapi kalo dijalani semuanya jadi enak hehe

      Hapus
  4. Sekarang masih umur 17 tahun, bentar lagi tamat sekolah. hm, nikahnya umur berapa ya? mungkin ini dulu pertanyaan yang sering terlintas dibenak saya.

    Belum mikir juga sih, "kira-kira saat membina hubungan rumah tangga akan seperti apa ya?"

    Dan biasanya kalau kata ibu sih begitu mbak, suami harus pinter-pinter ngatur nafsu istri yang seneng melenceng, kan gawat kalau uangmu habis sebelum target yang diprioritaskan bisa terleselesaikan, btw salam kenal mbak Ade Delina Putri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha nasihat ibumu benar kok Mas. Masih umur 17 tahun, masih banyak waktu buat nabung hehe smangat :)

      Hapus
  5. yes, bener banget, tujuh hal ini memang yang harus dipersiapkan sebelum menikah. Jangan sampai setelah menikah malah terkejut dengan keadaan yang tidak seperti dalam bayangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah jangan sampai punya ekspektasi kalo nikah tuh bahagia aja ya hehe

      Hapus
  6. Mengurus anak lebih mudah dibandingkan mengalahkan ego saya sendiri, hiks

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.