Sulitnya Membangun Keyakinan Saya untuk Menikah

Mungkin belum banyak yang tahu saat saya diajak menikah oleh suami dulu, saya mengalami kerisauan yang luar biasa. Bukan karena suami tidak baik. Tapi justru karena saya tahu beliau lebih baik dalam banyak hal dibanding saya. Saya diam-diam merasa beliau tidak ikhlas melamar saya. Saya takut beliau dipaksa oleh orang tuanya. Karena memang keluarga besar kami sangat dekat. Dan ketakutan-ketakutan yang membuat saya galau menerima lamaran beliau.
https://pixabay.com/id/kaus-kaki-wanita-stocking-1761998/
Berkali-kali dia meyakinkan saya bahwa memang kemauan beliaulah untuk menikah dengan saya. Dengan beragam alasan yang beliau berikan, untuk cukup meyakini saya. Tapi apa lantas saya jadi begitu saja yakin? Nyatanya belum. Selanjutnya saya malah terpikir kakak pertama yang saat itu belum menikah. Saya pernah berjanji pada diri sendiri, bahwa saya tidak akan menikah sebelum kakak saya menikah. Saya bisa merasakan bagaimana dilangkah sampai dua kali. Apalagi jika harus dilangkahi lagi oleh saya ketiga kalinya? Tidak sampai hati saya.

Begitulah, sampai akhirnya saya harus berkali-kali meyakinkan diri bahwa ini memang kenyataan. Berlebihan? Menurut saya tidak. Karena ya itu tadi. Saya tahu bagaimana suami dan keluarganya yang secara garis besar lebih baik dari keluarga saya. Sampai-sampai saat suami bertanya apa keputusan saya, saya hanya bilang, "coba tanya sama ayah ibu deh." -_- Dalam hati saya, sebenarnya saya mau. Siapa juga yang tidak mau menikah di usia muda, dengan pangeran yang diimpikan pula *halah*. Tapi saya pasrahkan saja, biar ayah dan ibu yang menilai apakah saya memang sudah siap menikah atau belum. Karena memang, merekalah yang lebih tahu saya.

They said, "Yes!"

Keputusan akhirnya, seperti yang sudah bisa diduga. Ayah ibu saya menjawab "ya!" Bahkan tanpa ragu sekalipun. Lalu saya yang mulai kelimpungan sendiri. Bagaimana ini? Apakah benar saya sudah siap untuk menikah? Menghadapi segala permasalahan rumah tangga nantinya? Siapkah saya punya anak nanti? Dan segala macam lainnya yang membuat pikiran saya berkecamuk.
https://pixabay.com/id/ya-surat-tablet-pengaturan-font-1137274/
Tapi sudah menjadi kesepakatan, jika ayah ibu setuju, maka jawaban saya pun sama. Maka dimulailah segala sesi kerepotan. Hal pertama yang kami lakukan tentu saja, meminta izin pada kakak pertama saya. Tidak pernah sedemikian berdegupnya saya kecuali saat itu. Takut jika kakak saya kecewa. Takut jika beliau sedih karena satu adiknya lagi mau menikah. Sampai takut jika beliau tidak mengizinkan. Untungnya, saya serahkan pembicaraan ini pada orang tua. Alhamdulillah, orang tua bisa mengatasinya. Kakak saya justru sumringah mendengarnya. Apalagi saya akan menikah dengan orang yang memang sudah kami sekeluarga kenal. 

Saya belum yakin!

Izin orang tua dan kakak pertama sampai keluarga sudah di tangan. Apakah saya sudah yakin? Masih 50% -_- Duh, betapa sulitnya memang saya meyakini diri sendiri. Pada akhirnya, di saat-saat seperti inilah saya kembalikan lagi pada Yang Maha Kuasa. Hanya Allah tempat saya bernaung. Hanya Allah tempat saya kembali dan hanya pada-Nya saya meminta kekuatan untuk diberi keyakinan. 
https://pixabay.com/id/castle-keamanan-yakin-kunci-untuk-1016717/
Saya memang menjalani segala kerepotan dengan mengurus segala macam urusan pernikahan. Tapi diam-diam saya tetap berdo'a pada Allah, supaya hati saya tidak goyah. Karena persiapan yang sudah jauh, dan dua keluarga besar yang keyakinannya sudah besar, tidak mungkin saya rusak begitu saja. 

Pernikahan pun terlaksana

Qadarullah, atas izin Allah, semua terasa mudah dijalani. Kami tidak mengalami hambatan apa pun untuk menyiapkan segalanya. Dari mulai urusan seserahan, lamaran, pengajian, sampai akad dan resepsi. Semua saudara saling membantu. Di sinilah akhirnya timbul keyakinan, kalau Allah sudah mudahkan, tandanya memang sudah jalannya. 
Finally, Alhamdulillah pada tanggal 22 Juli 2015, pernikahan terlaksana dengan lancar dan khidmat. Bahkan usia pernikahan kami sudah satu tahun lebih dan dikaruniai seorang anak yang sehat dan lucu. 

Maka, hikmah yang mungkin bisa saya ambil, semuanya kembalikan pada Allah. Segala keraguan dan ketakutan hanya Allah-lah yang mampu memberi kita petunjuk. Kita sebagai manusia hanyalah makhluk terbatas yang tidak bisa menilai baik buruk dengan benar. Karena bisa jadi, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata-Nya. Apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk di mata Allah SWT.

Dan semoga siapa pun yang hendak menikah, diberi keyakinan yang kuat oleh Allah. Hingga semuanya bisa dimudahkan dan dilancarkan sampai hari H bahkan hingga setelah berumah tangga :)


Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

9 komentar:

  1. Pada akhirnya hanya Allah tempat kembali segala resah

    BalasHapus
  2. idem... saya dulu juga pas terima taaruf, data langsung setor orangtua, mereka istikharah setuju, saya setuju :D

    BalasHapus
  3. Galau karena harus melangkahi ya mba. Tapi jodoh memang sudah diatur kapan datangnya. eh skrg sdh punya momongan ya mba

    BalasHapus
  4. Dear mbak Ade, mudah mudahan berkah selalu ya rumah tangganya. Saya sebagai salah satu yang agak "deg-degan" menghadapi pernikahan. Khawatir nya agak banyak dan salah satunya soal karir pribadi. Hehehe. Tapi makasih ya mbak atas share pengalamannya. Jadi pengen segera menghadapi pernikahan. Amiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih Mbak Annisa :)
      Masalah mbak, mungkin nanti bisa didiskusikan bareng calon suami. Supaya setelah menikah, ga ada halangan lagi. Semoga disegerakan oleh Allah ya Mbak :)

      Hapus
  5. Wah, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Memang, kadang berbicara dan berdiskusi adalah satu jalan yang bisa meringankan masalah--bahkan masalah yang rumit sekalipun. :)

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.