Personality Bukan Tameng Pembenaran

Tanggal 29 Juli lalu, Kang Canun memasang status seperti di atas di facebooknya. Saya agak ngeri sih bacanya. Bukan apa, kalau dilihat dari pertanyaan si pendengar ini, suami istri yang disebutkan belum paham makna yang sebenarnya dari ilmu personality (kepribadian.red). Alias ilmunya digunakan dengan cara yang tidak tepat. Saya sendiri akhirnya geregetan untuk ikutan komentar.
Iyes, ilmu personality itu memang penting! Gunanya ya untuk memahami karakter pasangan kita. Tapi kalau ilmu itu dijadikan tameng untuk mencari pembenaran padahal kita salah, ya jelas sangat keliru 😊 Padahal pernikahan sama saja dengan kehidupan, butuh pengembangan diri yang kontinyu. Seperti yang saya katakan di postingan Relationship Goals dan Ekspektasi, pernikahan itu sejatinya ya perkenalan seumur hidup dengan pasangan.

Personality bukan tameng pembenaran

Sebenarnya, saya pun pernah mengalami masalah personality ini. Jadi ceritanya saya ini punya golongan darah B. Berdasarkan referensi yang saya baca, golongan darah B orangnya tidak suka dikekang dan menyukai kebebasan. Ya, pada kenyataannya saya memang seperti itu. Sementara, saat suami menasihati saya soal entah apa saya lupa. Intinya, nasihat yang baik buat saya. Saya bilang, "golongan darah B itu nggak suka dikekang." Pas besok-besoknya saya pikir lagi, kayaknya saya salah sudah ngomong begitu. Nasihat itu kan baik buat saya sendiri. Bisa jadi saya juga menyakiti suami dengan kalimat saya tadi.

So, ilmu personality dipelajari ya untuk memahami karakter pasangan kita, tapi bukan berarti bisa jadi pembenaran ketika diri kita atau salah satu dari suami istri sudah jelas keliru. Katakanlah kasus seperti saya tadi. Saya tidak bisa menjadikan golongan darah saya sebagai pembenaran untuk tidak melakukan nasihat baik dari suami. Kasus lainnya ketika misalkan si istri punya kepribadian sanguinis yang suka berbicara, sedangkan suami punya sifat melankolis yang lebih pendiam. Istrinya meminta suaminya untuk banyak bicara seperti dirinya. Kalau begini ceritanya, bukan tidak mungkin suami akan mencari pembenaran serupa. Si suami merasa bahwa dirinya memang sudah sifatnya pendiam, istrinyalah yang seharusnya tidak banyak bicara. Akhirnya, dua-duanya sama-sama tidak mau kalah karena merasa sudah punya personality dan merasa bahwa personalitynya adalah hal yang saklek dan tidak bisa diubah yang harusnya dipahami. Maka apa jadinya rumah tangga, ketika dua pihak saling mementingkan egonya sendiri?

Pernikahan adalah rumah tumbuh

Well, apapun personality kita, semoga tidak mengubah diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya. Ada satu nasihat bagus yang pernah saya baca. Pernikahan adalah rumah tumbuh. Ketika sepasang laki-laki dan wanita menikah, maka saat itu pula keduanya siap untuk menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saling melengkapi dan tidak menuntut sebelum mau dituntut. Dengan kata lain, mau sama-sama bertumbuh menjadi pribadi yang baik setiap harinya. Karena pernikahan memang terdiri dari dua orang. Maka dua orang pula yang seharusnya mau belajar saling memahami 😊

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

4 komentar:

  1. Setiap rumahtangga pasti mempunyai persoalan yang dihadapi. Tentu cara menghadapinya juga berbeda pula. Saling menghormati, menghargai, dan mengerti sangat diperlukan. Komunikasi yang baik juga perlu dilakukan.
    Terima kasih pencerahannya.
    Salam hangatdari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget Pakde. Kuncinya komunikasi ya :)

      Hapus
  2. Aku juga B mbaaakkkk... Temenan ah temenan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yey tooos. Eh bukannya kita udah temenan? :D

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.