Pernikahan Bukan Akhir dari Masalahmu

Sering saya baca meme atau keluhan-keluhan wanita yang lelah bekerja dengan kalimat yang intinya kurang lebih "Kalo udah bosen kerja, mending nikah aja." Wow, seakan-akan pernikahan itu akhir dari masalah kelelahan bekerja, dan mulai bergantung pada suami nanti. Memang sih, tugas mencari nafkah adalah tugas utama seorang suami dan wanita tidak ada kewajiban untuk itu. Tapi jika kalimat meme atau keluhan tadi seolah dengan-menikah maka-masalahmu-selesai, its BIG NO!


Jangan pernah menganggap bahwa pernikahan adalah akhir dari masalahmu

Saya sudah pernah menulis di sini, banyak single yang setelah menikah merasa bangga karena telah melepas masa lajangnya. Oke, fine. Tapi akan menjadi salah ketika dia menganggap bahwa pernikahan adalah ujung dari akhir segala permasalahan. Padahaaal... dengan menikah justru kita akan menghadapi masalah-masalah baru, yang bahkan bisa dibilang jauh lebih kompleks. 
https://www.pexels.com/photo/gold-wedding-rings-with-decoration-6165/
Kita menikah dengan seseorang, yang mungkin sebelumnya tidak kita kenal sama sekali. Kita yang tadinya terbiasa hanya hidup dengan keluarga sendiri, lantas setelah menikah, kita harus mengenal keluarga pasangan. Bahkan menjalin hubungan baik. Yang kadang, hubungan ini tidak semulus yang dipikirkan. Entah karena perbedaan tradisi, pendapat, or anything yang intinya, dengan kita menikah, kita menyatukan dua perbedaan. Jangankan perbedaan dengan keluarga pasangan, bahkan dengan pasangan sendiri pun perjalanannya akan berkelok-kelok. Itu karena kita baru memulai sebuah perjalanan hidup dengan seseorang yang tadinya bukanlah siapa-siapa. 

Belum lagi dengan masalah ekonomi dan anak nantinya. Banyak!

Baca: Relationship Goals dan Ekspektasi

Maka yang sangat saya sayangkan, ketika seseorang memandang bahwa pernikahan itu selalu indah dan bisa menyelesaikan segala masalah. Mungkin kita akan terbebas dari pertanyaan "kapan nikah?" Tapi kita harus dituntut untuk siap menghadapi segala suka duka berumah tangga nantinya. Bahkan setelah menikah pun sebenarnya kita tidak lepas dari pertanyaan-pertanyaan lain. Entah "kapan punya anak?", "kapan nambah anak?" dan sebagainya. Memang pada dasarnya, itulah rona kehidupan. Kita takkan lepas dari berbagai pertanyaan.


Pemahaman yang dibutuhkan sebelum menikah

Kembali lagi, wanita bisa saja mengeluh capek bekerja dan inginnya nikah saja. Tapi harus dipahami, bahwa menikah tidak sesederhana itu. Coba deh sebelum menikah, baca buku-buku tentang pernikahan, ikut seminar tentang pernikahan. Jangan bilang itu omong kosong, kalau memang kamu belum baca. Karena faktanya kamu tidak tahu dari buku-buku itu justru bisa memberi kita pemahaman bahwa banyak yang harus dipersiapkan sebelum menikah dan hidup berumah tangga.

Tidak cuma dari buku atau seminar kita bisa belajar, tapi dari cerita-cerita nyata yang ada di hadapan kita sendiri. Bahkan cerita-cerita itulah pelajaran sesungguhnya. Katakanlah sederhananya dari perceraian-perceraian artis dari gosip yang mungkin kita tonton. Mungkin kita bisa memikirkan, kenapa mereka bisa bercerai, padahal sebelumnya mereka damai-damai saja? Yap, karena pernikahan lagi-lagi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Yang bisa menyelesaikan segala permasalahan kita.

Well, ini hanya sebagai reminder, jangan sampai ada lagi kalimat, "capek bekerja, mending nikah aja deh." "Capek kuliah, mending nikah aja deh." "Capek bla bla bla, mending nikah aja deh." Sebelum bicara seperti itu, lihat dulu fakta di lapangannya. Apakah benar dengan kita menikah, semua permasalahan kelelahan kita bisa terselesaikan. Apakah kita memang sudah mengerti apa itu pernikahan. Dan apakah kita sudah siap menghadapi semuanya nanti. Sebelum nanti kita malah mengeluh, "ternyata nikah tuh nggak sesuai ya sama ekspektasi gue" atau "duh enakkan single ya, bebas!" :))

So, think before you speak ^^

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

11 komentar:

  1. Cinderella love story, happily ever after kayaknya susah juga di terapkan dalam dunia nyata ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Karena kenyataan beda dengan dongeng :D

      Hapus
  2. iya mereka berpikiran begitu karena kurangnya pemahaman tentang arti pernikahan itu sendiri. karena menikah itu menyatukan 2 kepribadian yg berbeda dan itu tidak mudah #malahcurhat

    BalasHapus
  3. Wedding party is a starter...he he

    BalasHapus
  4. Capek kerja nikah aja... blm tau dia klo setelah nikah itu capeknya nglebih2in kerja hihihiii... Menikah itu kan niatnya menggenapkan separuh iman ya, berusaha menuju stage hidup berikutnya.

    Tapi ini berkaitan juga dengan paradigma 'perawan tua' sih ya, judgement dari lingkungan sekitar itu kadang kejamnya luar biasa sehingga mereka yg merasa sudah cukup umur lantas buru2 ingin menikah biar tdk mendapat cap itu tadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu sih yang disayangkan -_- Judge orang-orang yang kadang nggak tahu situasi sebenarnya seperti apa hiks.

      Hapus
  5. kebanyakan nonton drama itu mba.. mereka pikir setelah nikah bakal muncul tulisan 'the end' .. padahal drama aja ada sequelnya, ada season 2-3 and seterusnya, itu dimaksudkan ya memunculkan segala permasalahan yang bakal mungkin tokohnya hadapin kaaan ?

    hehe.. ketahuan anak drama ya, ngenanggapin artikel kaya gini pun kebawa drama. ga papa kan mba, yang penting aku hidup di dunia nyata kok..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi gapapa kok Mbak, saya juga suka nonton drama *eeh :v

      Hapus
  6. Nah ini... kalau single aja udah rapuh, gimana jadi ibu yg harus tahan banting 😀

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.