Mengapa Saya Emosi?

Saya bergidik saat suami cerita tentang berita ibu yang memutilasi bayinya. Saya bergidik karena menyadari bahwa akhir-akhir ini emosi saya mudah tersulut. Kesalahan dan kekeliruan yang sepele bisa membangkitkan emosi saya. Ya, emosi saya menjadi meledak-ledak. 
https://pixabay.com/id/gadis-komputer-buku-catatan-1064659/
Saya sampai merenung sendiri. Apa yang salah dari diri saya? Saya punya banyak waktu luang. Saya masih bisa melakukan me time dengan menulis dan baca buku. Suami tidak pernah luput membantu saya untuk urusan rumah tangga. Bahkan saya diizinkannya jarang masak. Lantas apa yang salah? Apa yang kurang? Anak pun sehat, tidak pernah rewel. Lalu apa? 

I want to be perfect?

Saya curhat ke suami masalah ini. Beliau bilang bahwa saya selalu menginginkan segala sesuatunya sempurna. Semua harus tepat waktu dan diselesaikan saat itu juga. Itulah yang barangkali membuat saya stres jika kenyataan tidak sesuai dan apa yang saya inginkan harus tertunda. Sampai kemudian beliau menyuruh saya untuk baca buku 60 Second Manajemen Stres. Dan salah satu yang saya pelajari dalam buku itu, sediakan waktu 60 detik sebelum marah.

Saat saya mengeluhkan emosi yang meledak ini, suami juga dengan mudahnya bilang "kurang wiridan kali." Tapi disitulah saya berpikir, mungkin ada benarnya. Memang, setelah punya anak, saya merasa segala sesuatunya harus berjalan cepat bahkan termasuk urusan ibadah. Saya selalu berpikir harus gerak cepat sebelum anak menangis. Tapi apa akhirnya? Sholat saya menjadi tergesa-gesa. Padahal anak saya tidak menangis. Akhirnya saya malah tidak memiliki waktu berarti bersama Allah. Padahal Ia yang Maha Mengatur dan Memudahkan hidup saya.

Ibu dan mertua yang (selalu) baik-baik saja 

Lantas saya ingat, ibu dan mertua saya memiliki anak banyak. Mereka hingga kini masih 'waras' bahkan bahagia di masa tuanya. Hingga saya baca salah satu bab di buku Reclaim Your Heart yang membahas tentang sholat. Saya menemukan kutipan berikut, 
"Mereka yang telah terjatuh dari jalan lurus hanya perlu melihat kembali ke tempat ia bermula; dan mereka akan mendapati bahwa itu dimulai dengan sholat. Hal yang sama persis berlaku sebaliknya. Bagi mereka yang ingin mengubah kehidupan, mulailah dengan berfokus pada sholat dan menyempurnakannya." hlm. 180 Reclaim Your Heart. 
Ya, apa yang membuat ibu dan mertua saya masih bahagia adalah karena tidak sehari pun mereka meninggalkan sholat. Sholat mereka tidak tergesa-gesa. Bahkan sering saya menemukan sholat mereka cukup lama.

Saya juga selalu ingat pesan ibu pada anak-anaknya. Utamakan urusan akhirat, maka dunia akan mengikuti. Nyatanya memang benar. Kita tahu dalam Islam sholatlah yang akan menolong kita.

Akhirnya saya mencoba kembali introspeksi. Barangkali ada yang harus dibenahi dari cara ibadah saya. Sholat yang tergesa-gesa, wiridan atau dzikir sehabis sholat yang kurang, bahkan sholawat yang sudah jarang saya lakukan. Mungkin itulah penyebab setan mudah masuk dalam diri saya.

Saya beruntung punya seseorang yang senantiasa menjadi pengingat bagi saya. Kalau saja tidak ada suami, barangkali emosi saya semakin gila.

Ya Allah terima kasih. Dengan caraMu, Engkau masih menolong hamba lewat berita ibu tadi. Lewat suami. Dan lewat ingatan ibu dan mertua hamba. 

Semoga Allah selalu memberi petunjuk pada kita semua :) 

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

18 komentar:

  1. Ya Mbak, biasanya kita bakal jadi mudah emosi, stres dll kalau hubungan kita dengan Allah sedang gak baik. Kalau hablumminallah dijaga baik, maka semua pasti beres, hub dengan manusianya inshaallah jg baik.

    BalasHapus
  2. semakin dekat dwngan Allah.. maka hati akan kian tentram..

    makasih mba..

    BalasHapus
  3. Iya bener, saya juga tidak kepikiran, kok bisa ada orang tega membunuh darah dagingnya sendiri ya?

    BalasHapus
  4. Aku jg miris ama cerita istri polisi yg mutilasi bayinya lho mba, kdg2 kita emang ngga bisa ngontrol emosi krn otak bkerja trllu keras, jd bs stres,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Otak terlalu banyak mikir juga bisa stres kalo ga dikelola dengan baik hiks

      Hapus
  5. Apapun alasannya tidak dibolehkan menyakiti atau menghilangkan nyawa orang lain.
    Bila kondisi sedang marah, rubah posisinya, itu sih kata Pak Ust...

    thank

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Duduk atau tiduran dan perbanyak istighfar :)

      Hapus
  6. Pengalaman didikan keras & gampang dikasih hukuman fisik jaman dulu bikin aku berusaha tdk melakukannya ke anak... Kl sempet khilaf nyentik dikir, langsung minta maaf & meluk anaknya.. Brasa bersalaaah bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Generasi kita memang rata-rata dibentuk dg cara seperti itu. Tinggal sekarang, kesabaran kita yang harus dikuatin ya :')

      Hapus
  7. saat kita banyak sibuk ngurus anak memang sering kali tersulut emosi, aku alami sendiri . Sekarang aku menyadari ternyata setelah anak beranjak remaaj aku mulai tenang karena hidup sudah lebih teratur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo anak udah pada gede, udah bisa mandiri ya Mbak :)

      Hapus
  8. Bisa jadi benar kata suami.
    "kurang wiridan kali?"

    Dalamnya kurang vitamin, bunda.
    Vitaminnya ya wirid

    BalasHapus
  9. Cara paling ampuh, ketika emosi langsung ambil wudhu. :)

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.