Karena dari Anak Pertamalah Kita Belajar

Pernah suatu malam saya menatap Emir yang sedang tidur. Pikiran saya langsung melintas, bukankah setiap orang tua seharusnya menyayangi anak pertamanya dengan lebih? 
"Perlu banyak berterima kasih dan minta maaf pada anak pertama kita, karena mereka guru pertama kita jadi orangtua, dan karena merekalah kita tidak melakukan kesalahan yang sama untuk anak-anak selanjutnya." - Foezi Citra Cuaca Elmart
Baca:  4 Referensi Tulisan tentang Pernikahan dan Parenting

Anak pertama yang 'dituntut' untuk lebih

https://pixabay.com/id/anak-laki-laki-putra-balita-anak-1272637/
Karena Emirlah akhirnya saya memahami mengapa menjadi anak pertama dibilang cukup berat. Sebab ia dilahirkan pertama kali, saat dua pasang insan baru belajar meniti rumah tangga kemudian harus menjadi orang tua. Ia dilahirkan pertama kali saat emosi kedua orang tuanya belum benar-benar stabil karena belum berpengalaman. Meski begitu banyak ilmu atau buku yang dibaca orang tuanya, tetap saja teori tidak bisa mengalahkan praktek. Karena ia dilahirkan saat orang tuanya masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Saya akhirnya paham mengapa ada anak pertama yang emosinya labil, karena ia harus merasakan dibesarkan oleh orang tua yang belum mengerti banyak hal. Sementara adik-adiknya menjadi lebih baik, karena orang tuanya sudah belajar dari kesalahan-kesalahan dalam membesarkannya.

Saya akhirnya paham mengapa anak pertama 'dituntut' untuk lebih cerdas dan bijaksana. Karena ialah yang akan mengajarkan dan menjadi contoh untuk adik-adiknya.

Saya akhirnya paham mengapa anak pertama 'dituntut' untuk lebih kuat. Ia harus belajar bagaimana caranya mengalah, bagaimana caranya mandiri, dan bagaimana caranya bertahan. Karena kelak ia yang akan melindungi adik-adiknya saat orang tuanya tidak lagi mampu atau bahkan meninggal.

Karena anak pertamalah...

Kembali lagi pada pikiran awal saya. Bukankah setiap orang tua seharusnya menyayangi anak pertamanya dengan lebih? 
  1. Ya, sebab ia lah yang menjadi anugerah pertama orang tuanya. 
  2. Sebab ia lah  yang pertama kalinya mengajarkan dua pasang manusia untuk menjadi orang tua. 
  3. Sebab ia lah yang 'ikut berjuang' bersama orang tuanya agar kebutuhan keluarga tercukupi.
  4. Sebab ia lah yang pertama kali mengajarkan orang tuanya menjadi lebih bijak, sehingga lebih baik dan sabar merawat dan mendidik adik-adiknya.
  5. Yang terakhir, karena anak pertamalah yang akan menjadi pelindung bagi adik-adiknya.
Bukan, bukan berarti di sini saya ingin bilang bahwa anak yang lain tidak perlu mendapat kasih sayang. Tentu saja setiap anak harus mendapat kasih sayang yang sama. Hanya saja saya sempat berpikir, anak pertama sering kali 'tergeser' posisinya saat ia sudah punya adik-adiknya. Ia dituntut untuk lebih dewasa dan mengalah. Oh tentu saja itu memang harus karena dia lebih tua. Dan itu tadi, karena dia harus melindungi adik-adiknya.

Tapi semoga saja saya dan juga kita semua tidak pernah lupa, bahwa anak pertamalah anugerah kita yang pertama. Dan darinya kita belajar menjadi orang tua dan banyak hal untuk pertama kalinya :')

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

2 komentar:

  1. saya anak pertama mbak, sering dibanggain ama ortu. Kalau dari sisi saya sih (dulu) sering merasa diabaikan kasihsayangnya, sering dipaksa untuk tegar.
    Tapi, semakin kesini saya kira sih sama saja ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Pada dasarnya semua anak sama ya :)

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.