6 Cara Menekan Biaya Pernikahan

Mungkin kita pernah membaca meme yang bertuliskan "Nikah di gedung, tapi tinggalnya di kontrakan." Sontak saja memunculkan berbagai reaksi netizen. Saya sendiri, sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa pasangan yang menikah di gedung, terkadang bukan semata mencari kemewahan. Tapi bisa jadi lokasi tempat tinggal yang sempit dan tidak memungkinkan. Atau tidak mau membuat rumahnya berantakan, alhasil lebih memilih di gedung saja.

Memang, seperti yang kita tahu bahwa menikah di zaman sekarang itu tidak murah. Karena banyak printilannya. Jarang yang berpikir hanya mau melaksanakan akad saja. Meskipun perayaan itu hanya tradisi, tetapi banyak orang memang ingin memberikan yang terbaik di hari pernikahannya, yang dilakukan hanya sekali seumur hidupnya. Dan sesederhana apapun perayaan atau resepsi, tetap saja membutuhkan biaya. Maka sah-sah saja jika orang ingin melaksanakan suatu perayaan dengan model apapun. Toh mereka menikah kan, atas biaya sendiri dan tidak merugikan kita. *itulah orang-orang, seringnya cuma nyinyir -_-
https://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/2473246/340594079/stock-photo-closeup-view-of-married-couple-holding-hands-340594079.jpg
Beberapa hari lalu saya sempat bertanya pada kakak saya, bagaimana cara mengatur biayanya saat dia dan suaminya dulu menikah. Lho, kenapa tidak berdasar pengalaman saya saja? Hehe soalnya waktu saya nikah kan dadakan, jadi yang mengatur semuanya ayah dan ibu :v Sooo, saya tidak tahu pengaturan pastinya :))


Ini dia cerita kakak saya untuk menekan biaya pernikahan

Waktu teteh sih Alhamdulillah karena ayah ibu banyak temen banyak kenalan, jadi banyak diskonnya.
Kalo ayah kan waktu itu Bu Dedi (tetangga dekat rumah) sering langganan kursi sama ayah (ayah saya memang suka membuat atau memperbaiki kursi orang) dan Bu Dedi sering dapet job dari ayah dan ibu. Jadi pas teteh pake Bu Dedi banyak diskonnya. Trus masak Bu Rustam tetangga sendiri baek banget lagi dia. Bersyukur punya ayah dan ibu yang banyak bergaul sama orang yang baek-baek.
Kalo buat akad dan resepsi, teteh ga tau apa-apa. Teteh cuma ngasih duit ke ibu yang atur semuanya ayah ibu.
Kalo buat belanja seserahan ala kadarnya ga usah muluk-muluk mau yang wah yang penting ada mas kawinnya
Nabung berdua (waktu itu kakak saya memang pacaran dengan suaminya) hampir 1,5 tahun. Pertama duit ngumpul yang teteh beli buat mas kawin dulu teteh pokoknya waktu itu maunya emasnya yg seharga 5 juta aja.
Teteh waktu itu dibudget-budgetin buat mas kawin berapa, buat seserahan berapa, buat lamaran juga berapa, sampe buat acara akad dan resepsi, buat biaya ngurus surat-surat berapa.
Itu juga nanya-nanya orang yang udah pengalaman termasuk bi (kakak saya yang laki-laki dan sudah menikah lebih dulu) teteh tanya.
Kesimpulannya, segala niat baik pasti ada aja jalannya pasti dikasih jalan sama Allah dan yang pasti sebisa mungkin biaya buat nikah jangan ngutang
So, kesimpulan yang bisa diambil dari cerita kakak saya untuk menekan biaya pernikahan dan resepsinya, adalah:

Punya jaringan

Seperti yang dikatakan kakak saya, ayah dan ibu memang banyak sekali temannya. Dengan banyak teman, maka orang seringkali jadi dipermudah. Mungkin ini ya alasannya orang banyak silaturahmi, jadi banyak rezeki. Terbukti saat kakak saya menikah, semuanya dimudahkan karena ayah dan ibu yang baik pada orang *uhuk. Nah dengan pertemanan pula, kita jadi punya jaringan. Teman itu kan pasti beragam ya profesinya. Jika kita baik pada mereka, suatu saat kita butuh atau punya keinginan, maka bisa meminta bantuan pada mereka. Jadi tidak ada salahnya, mulai sekarang berbaik-baiklah pada vendor pernikahan hehe. 

Punya tabungan

Saya bukan mau menyuruh teman-teman menabung dengan pacarnya seperti yang dilakukan kakak saya ya. Bukan. Karena dari kata pacarannya saja, saya sudah tidak setuju -_- Terserah sih kalau teman-teman tetap melakukan cara yang sama. Hanya saja harus siap dengan segala konsekuensinya. Karena masa depan tidak ada yang tahu. Jika komitmen tidak kuat, maka bukan tidak mungkin malah jadi bingung pembagian uangnya yang sudah ditabung. Jadi di sini saya cuma mau bilang, menabung itu memang sumber penting dalam kehidupan. Sebab itu artinya, kita jadi punya pegangan untuk masa depan atau sesuatu yang tidak terduga. Apalagi jika punya niat menikah. Maka menabunglah dari sekarang :)

Buat budget atau anggaran untuk seserahan, lamaran, acara resepsi.

Lebih tepatnya sih buat budget untuk pernikahan yang diinginkan. Ingin nikah di gedung atau di rumah, buatlah anggarannya. Ingin pernikahan di outdoor, buatlah anggarannya. Dengan adanya anggaran, maka akan lebih mudah untuk mengatur biaya ke depannya. Daaan biasanya, kalau sudah dibuat anggaran, jika meleset pun, pasti tidak akan jauh-jauh. Ya kalau jauh, namanya tidak konsisten -_- Setelah dibuat anggaran, maka langkah selanjutnya bisa mulai mencari-cari gedung, atau tempat pernikahan yang diinginkan. Dan salon atau catering yang akan dipakai, kalau teman-teman memang ingin memakai keduanya. Atau dibalik, bisa dengan mencari-cari referensi dulu, jadi tahu berapa kira-kira yang harus dianggarkan. Ini sih sependek pengetahuan saya ya. Jadi janganlah anggap saya ini konsultan keuangan -_-

Tanya pada yang berpengalaman

Yess, ini sih yang terpenting. Banyak-banyaklah bertanya pada yang sudah berpengalaman. Misalnya teman-teman ingin menikah di gedung, ya tanyalah pada orang yang pernah menikah di gedung. Ingin pakai catering A, tanyalah pada yang pernah memakainya, dan seterusnya. Bertanya pada yang berpengalaman ini juga akan mempermudah dalam pembuatan anggaran tadi. Jadi kita ada gambaran gitu istilahnya. Dan dengan adanya anggaran, otomatis kita akan lebih mudah menyiapkan tabungannya. Nah lho, balik-balik lagi deh. Tapi intinya paham kan ya :)

Jangan Menghutang

Ini super penting! Usahakan jangan menghutang demi sebuah perayaan. Resepsi kamu mewah, tapi besoknya kamu justru tidak makan karena harus membayar hutang. Nay! Kembali lagi pada poin-poin atas. Jika yang kamu inginkan ternyata melebihi batas kemampuan atau anggaranmu, maka sebaiknya cari opsi lain. Dan ingat, bahwa yang terpenting adalah kehidupan setelah pernikahan itu sendiri. Menikah tidak sehari dua hari ya Guys ;) So, pastikan bahwa pernikahanmu bisa terlaksana dengan biaya yang cukup dan tidak sampai menghutang ;)

Jangan Takut

Akhirnya, benarlah kata kakak saya. Kalau kita punya niat baik, tidak perlu takut. Menikah itu kan niat baik ya. Berdasarkan sunnah Rasul dan perintah agama. Maka jika niat kita sudah kuat, tidak perlu takut akan kekurangan. Jika kita sudah berusaha dengan mengatur anggaran, dan mengurus semuanya, maka tinggal menguatkan do'a, supaya nanti lancar sampai hari H. 
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. an-Nur [24]: 32)
Well, selamat menikah *ups! Maksudnya, selamat mempersiapkan pernikahan ! ^_^

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

4 komentar:

  1. Saya sih dulu makeup artis temen sendiri, juru foto teman juga, tukang masak pnya catering nenek saya, nikahnya di rmh jd ngak ada sewa gedung wahh pengiritan banget deh hahahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Kalo punya jaringan banyak enak ya jadinya :D

      Hapus
  2. Nikah dengan segala keseruannya.. Tapi memang oerlu persiapan yang matang ya, termasuk urusan biayaaa

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.