Pengaruh Cara Didik Orang Tua

Barangkali teman-teman masih ingat dengan kasus seorang wali murid yang melaporkan guru anaknya ke kantor polisi karena telah mencubit anaknya. Sontak saja netizen langsung ramai. Sebagian besar mengungkit-ngungkit kisah masa lalunya yang juga pernah dicubit guru atau orang tuanya, namun bersikap biasa saja. Malah menurut mereka, orang tua murid yang melaporkan gurunya tersebut merupakan tindakan yang sangat berlebihan. Well, soal berlebihan saya agak sepakat. Sebab, menurut saya hal seperti ini sebenarnya masih bisa dibicarakan secara kekeluargaan kan.

Cara Didik Orang Tua Berpengaruh pada Perkembangan Anak

Tapi saya tidak ingin bicara panjang lebar soal kasus itu, saya ingin memandangnya dari sisi lain. Saat semalam saya membaca tulisan Mbak Grace tentang pengalamannya hipnoterapi pasutri, ada satu garis besar dalam tulisannya yang menarik dan terkait dengan kasus guru dan orang tua murid tadi. Yakni tentang pengaruh pola asuh orang tua yang ternyata bisa berpengaruh pada kehidupan rumah tangga. Dari cerita Mbak Grace, ternyata pola asuh orang tua saat kanak-kanak sampai sebelum menikah, telah mempengaruhi perilakunya saat sudah menikah. Banyak perilaku mamanya yang kurang ia sukai, tapi secara tidak sadar justru ditirunya saat ia sudah berumah tangga.

Jadi bisa disimpulkan, bahwa tidak semua bentuk kekerasan adalah cara terbaik dalam mendidik anak. Malah, secara tidak langsung, justru membuat anak menjadi penakut, muncul rasa traumatik, bahkan tidak jarang malah menimbulkan perilaku-perilaku buruk akibat cara didik orang tua yang salah. Saya sendiri misalnya. Saya dididik dengan cara yang tidak beda jauh. Dulu, setiap kali saya melakukan kesalahan meski sepele sekalipun, orang tua akan marah. Dampaknya adalah saya jadi takut setiap kali melihat orang marah. Saya juga menjadi anak yang tidak berani mencoba karena takut salah. Setelah membaca tulisan Mbak Grace tadi, barulah saya sadar, barangkali ketakutan itu akibat rasa trauma cara didik orang tua dulu.

Memutuskan Rantai Cara Didik yang Salah


Perilaku yang timbul dari cara didik orang tua ini rupanya memang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perilaku anak bahkan hingga dewasa. Karenanya, rantai cara didik yang salah ini harus diputus mulai dari diri kita sendiri.

Dari buku Jodoh Dunia Akhirat yang pernah saya baca, cara untuk memutus rantai itu adalah dengan membuang rasa trauma masa lalu dan belajar memaafkan kesalahan orang tua. Juga belajar menerima bahwa orang tua kita dulu hanyalah keliru. Cara ini bukan saja berguna agar hidup kita lebih ringan, namun juga membuat kita lebih mensyukuri keadaan saat ini dan tidak mengulangi kesalahan yang sama saat kita sudah menikah dan menjadi orang tua.

Baca: Maafkan, Terima, Syukuri

Tidak mudah memang menjadi orang tua. Terlebih dengan segala tingkah anak. Saya sendiri pun masih sangat belajar. Namun dengan kemajuan zaman dan teknologi, sekarang telah berkembang berbagai ilmu-ilmu parenting yang barangkali bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sekali lagi, tidak mudah. Karena praktek seringkali lebih sulit dari teori. Namun juga bukan berarti tidak bisa kan :). Hanya tinggal memperbesar rasa sabar juga ingatan bahwa anak sesungguhnya amanah yang harus dijaga :)

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

6 komentar:

  1. Iya ya Mba. Bagaimana cara orang tua mendidik anak, mempengaruhi perkembangan kita hingga dewasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagian besar betul mbak. Sisanya barangkali faktor lingkungan :)

      Hapus
  2. wah.. saya kira hanya cara mendidik anak saat si anak masih kecil saja ya yang berpengaruh ke perilaku seseorang. ternyata cara mendidik ortu saat si anak sudah besar dan dewasa juga berpengaruh ya mbak. hmm.. semoga kelak saat jadi orang tua, bisa memperlakukan anak dengan bijak dan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin :)
      Cara didik saat anak masih kecil itu Mbak akan berpengaruh juga pada saat dia dewasa. Tapi ya orang tua mendidik juga seumur hidup sih :)

      Hapus
  3. Aku sendiri udah berusaha nge-mindset kalau kelak jadi orangtua, nggak mau jadi tukang ngomel kayak Mamahku. Sedikit tertekan sih kalau apa-apa diomelin, ya semoga bisa memutuskan rantai kejelekan dan melanjutkan kebaikan-kebaikannya deh ya :')

    asysyifaahs.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin :D
      Iya kalo diomelin terus kan nggak enak ya ^^

      Hapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.