Anak Hanya Ingin Orang Tuanya

Sabtu siang kemarin, seorang teman facebook saya membagikan sebuah video yang cukup menyentuh. Inti dari video tersebut adalah tentang pertanyaan pada para orang tua yang di bulan Ramadhan ini, jika diberi kesempatan ingin berbuka puasa bersama, ingin berbuka dengan siapa dan dimana. Rata-rata orang tua menjawabnya dengan artis-artis dan di luar kota bahkan luar negeri. Namun apa yang terjadi jika pertanyaan tersebut justru ditanyakan kepada anak-anak mereka? Maka jawaban anak-anak sederhana sekali. Ingin berbuka puasa dengan orang tua mereka dan di rumah! Ya. Cukup itu dan hanya itu. Teman-teman bisa lihat videonya di sini.

Setelahnya, saya justru jadi teringat dengan kejadian saat di minimarket beberapa waktu lalu. Saat di kasir, saya melihat seorang anak kira-kira umur 3 atau 4 tahunan bersama ayahnya. Yang saya lihat, sang ayah hanya membeli diapers dan satu batang cokelat. Sembari mengantri, sang ayah bertanya pada anaknya, "mau es krim?" Dan jawaban si anak? "Enggak. Aku mau cokelat sama Ayah aja." 

See? Apa yang bisa teman-teman lihat? Saya terharu dengan keduanya. Bahwa anak hanya ingin orang tuanya! Ya, pada kenyataannya, bagi seorang anak, keberadaan orang tua adalah hal yang amat berharga. Namun sebaliknya, orang tua seringkali mengabaikan keberadaan anak. Tak jarang orang tua hanya memikirkan kebutuhan lahir si anak. Sampai-sampai lupa bahwa anak juga seorang manusia yang harus dicukupkan kebutuhan batiniyahnya. Seperti sederhananya perhatian dan kebersamaan dengan orang tua itu sendiri. 

Saat pulang dari minimarket itu, saya berbicara pada suami. Saya meminta padanya dengan sangat, bahwa kami harus saling bekerja sama. Harus selalu berada dekat dengan anak. Jangan sampai anak merasa orang tuanya jauh. Merasa bahwa orang tua hanya sibuk mengejar materi sampai lupa memperhatikan bahwa anak juga butuh keberadaan orang tua untuk dekat dengan mereka. 

http://klikkabar.com/2016/04/23/ibu-berperan-penting-pantau-perkembangan-otak-anak/
Saya pun sebagai anak, merasakan hal yang sama. Saat saya berada dekat dengan kedua orang tua, saya sudah merasa sangat bahagia. Tanpa perlu mereka memberi saya hadiah, cukup hanya dengan obrolan yang diselingi dengan tawa ringan sangat membuat saya bersyukur. Bahwa saya masih dianugerahi orang tua yang bisa selalu dekat dengan saya. 

Maka video dan kejadian di minimarket itu menjadi pacuan buat saya. Bahwa sekarang, saya sudah jadi orang tua. Menjadinya sungguh tidak mudah, namun mencukupinya dengan terus berada dekat dengan mereka adalah sebuah keharusan. Tentu saja, jika saya ingin saat anak sudah dewasa kelak, juga tidak lupa dengan keberadaan saya dan suami sebagai orang tuanya.

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, and Bookish.
Live in Surabaya.
For question, please email:
adedelinap@gmail.com
Keep smile, keep spirit, positive thinking ^_^

7 komentar:

  1. Anak saya msh blum bisa ngomong mbak, tapi pasti dia maunya buka puasa bareng saya hehehe

    BalasHapus
  2. Sebagai orang tua, saya setuju mbak. Sesibuk apapun kita, musti memberikan perhatian lebih pada anak...

    BalasHapus
  3. Mumpung anak masih kecil2. Luangkan waktu sebanyak mungkin utk mereka. Jangan sampai menyesal nanti saat mereka remaja, dan lebih mwmilih bersama teman2nya daripada bersama kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Bun. Saat remaja mereka sudah punya dunianya sendiri ya :)

      Hapus
  4. anak saya baru 18 bulan... kalo lagi naik motor ku gendong n dia meluk menyandar didada saya..rasanya...beeehhh,,seneng...

    BalasHapus

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.